Archive for February, 2006

Permisif…. (menjawab tanggapan lisan teman baik mengenai blog “jaman beginee….”)

Sunday, February 26th, 2006

Seorang teman yang aku anggap cukup baik di Rotterdam memberikan komentar pribadinya mengenai blog-ku sebelumnya (jaman beginee….). Dia bilang siy… yah gimana.. si rektor itu juga manusia…. ya bisa aja punya salah…. pisahkan dong posisi si rektor sebagai jabatan dan si rektor sebagai seorang manusia….

Jujur aja aku jadi sewot campur kaget. Pertama, karena jawaban "ajaib" beliau… yang dikemas dalam bahasa yang sangat filosofis yang bisa "membuai" pendengarnya… kalo pendengarnya gak sadar dia lagi dibuai; Kedua, karena beliau juga konon salah satu petinggi di lembaga strategis Republik Indonesia yang mengatur strategi pembangunan jangka panjang ke depan.

Langsung aja aku tanggapi pendapatnya dia itu dengan menyampaikan bahwa rektor pasti merangkap pendidik, terkadang seorang (dalam hal ini rektor sebagai pendidik) akan susah dan akan sangat vital akibatnya apabila dia memisahkan "kemanusiawiannya" (baca : kecenderungan manusia untuk berbuat salah) dengan amanah pekerjaannya sebagai rektor. Kalo pandangan untuk memisahkan peran sebagai individu manusia dengan individu rektor… bukankah secara gak langsung kita jadi orang2 permisif yang membiarkan aja apa yang terlihat dan terpraktikan dengan salah (plus dalam hal ini violating idealism as a civil servant, which is yang seharusnya menjadi abdi negara… bukan abdi diri sendiri)?

Jujur agak gak enak juga siy, aku ngomong agak straight to the point gitu sama doi…mengingat doi termasuk civil servant…. apalagi doi jadi diem setelah aku ungkapin pemikiran aku kalo aku gak pengen jadi orang yang permisif dan bisa santai menjustifikasi masalah yang ada dengan permakluman2 yang menurut aku gak relevan… Tapi berhubung doi orangnya juga agak straight to the point… aku mikir straight to the point adalah pendekatan yang efektif dalam menyampaikan pemikiran aku ke beliau :p Jadi siy kita baek2 aja…. bahkan tetep ngobrol macem2 mengenai hal2 yang cukup menarik perhatian kita berdua.

Kalo mau reflektif lagi… mungkin ini kali ya cara ALLAH ngasih aku pelajaran kehidupan bahwa kita harus tetap jadi orang yang berpegang teguh pada prinsip… jangan sekali2 permisif, karena sekali permisif kita tanpa sadar akan digiring menjauh dan bisa jadi berbalik 180 derajat dengan prinsip yang kita anut sekarang.

Jadi teringat dengan profesor marketing aku yang terkenal dengan "hard man" atau "tough man" karena ketegasannya (baca: galak) menghadapi mahasiswa yang terlambat (even cuma 5 menit) atau mahasiswa free-rider yang sangat jelas terlihat gak punya andil dalam kerja kelompok (dia tidak segan mengeluarkan kata2 "keras" dalam mengingatkan atau memaki kesalahan si mahasiswa/i). To some extent, dia emang terlihat seperti diktator atau kapten di angkatan bersenjata dengan pengetahuan aplikasi & ilmu marketing yang sangat mendalam… (plus juga tajam sekali dalam menganalisa permasalah marketing di perusahaan). Tapi kalo dilihat mendalam… dia sebenernya gak mau jadi orang permisif dengan memberi permakluman2 bagi mahasiswa yang "laid-back" dan agak kurang bertanggungjawab… dan dia konsisten …. tegas menjaga prinsipnya itu…. Terbukti ketika dinamisasi kelas sudah berjalan dia sangat menghargai mahasiswa/i yang aktif di kelas plus terkadang bisa memberikan humor yang cukup buat kita tertawa dalam arti tertawa sebenernya….

Yah… memang akhirnya gak penting jadi orang yang populer…. lebih penting jadi orang yang konsisten, berjuang, dan tetap mempunyai prinsip luhur dalam hidup. Bak kata Peter Cuneo (mantan CEO Marvel Comics yang mengangkat Marvel dari kebangkrutan menuju ke perusahaan yang tumbuh kembali menjadi besar & terus naik performance-nya) di kuliah tamu RSM Erasmus University bulan lalu. Media, which lead you to popularity, akan buat kita menjadi orang yang merasa paling hebat…. padahal sebenernya media itu membunuh karakter kita sendiri… karena dengan pemberitaan media yang membuat kita merasa hebat… dan sukses membuat diri kita merasa paling hebat…. adalah cara "sukses" untuk gagal di kemudian hari…. karena ketika kita merasa paling hebat dan tidak butuh ilmu lagi… maka itulah saat awal kejatuhan kita sebagai seorang manusia…..

Hmm… kok jadi ngalor ngidul begini…. anyway, many thanks to Prof. Gordon Mardy, Mr. Peter Cuneo & Mr. MN…. dengan tangan2 kalianlah ALLAH SWT memberi saya salah satu pelajaran penting mengenai kehidupan

Schiedamse Vest, 26 February 2006.

jaman begineee…..

Saturday, February 25th, 2006

Kemarin habis chat sama suami….. dia ketemu sama tour guide waktu dia ke India sama kantornya yang dulu di pesawat pas waktu dia pulang dari business trip ke HK. Seperti biasa suamiku yang emang mudah akrab dengan orang, say hi & ngobrol sama tour guide itu. Bak ketemu temen lama lancarlah mengalir cerita selama perjalanan tersebut.

Suamiku (dan aku juga ketika mendengar cerita beliau) terkejut  banget ketika si tour guide cerita kalo dia bawa seorang rektor universitas negeri di Kalimantan bersama 11 orang mantan stafnya untuk farewell session karena sang rektor mau pensiun…. Si tour guide siy sebenernya agak "curigation" karena masa’ uang sebanyak itu dipake buat farewell pensiun doang… darimana uangnya……mana rombongan mereka di HK belanja banyak banget lagi…..

Secara personal siy… tetep aja berprasangka baik kalo misalnya rektor itu punya uang pribadi yang emang dari pencarian yang halal (misalnya : menabung atau warisan). Cuma gayanya itu lho…. sebagai seorang akademisi dan petinggi dalam dunia pendidikan rasanya agak aneh kalo dia melakukan perpisahan dengan "mentraktir" 11 orang stafnya jalan2 tour + belanja di HK.

Pertama, kenapa uang tersebut gak dimanfaatin untuk dana bergulir untuk perpustakaan atau lab komputer atau pengadaan alat laboratorium…. yang bisa mendatangkan kemanfaatan buat banyak orang. Kalau si rektor melakukan ini justru dia akan dikenang sebagai rektor yang punya integritas karena kontribusinya yang banyak di lingkungan sekitarnya ….

Kedua, kenapa dia tidak merasa bersalah ya…. memberikan contoh yang bisa memancing sinis masyarakat (baca : farewell ke HK) padahal dia seorang akademisi, pendidik plus petinggi dunia pendidikan….. padahal udah jelas memancing sinis masyarakat akan kontraproduktif dengan kinerja perguruan tinggi… yang dipimpin oleh sang rektor

Kalo kasus ini merefleksikan kondisi nyata di lapangan mengenai mentalitas birokrat akademis indonesia…. kapan Indonesia mau maju ya…. Pendidik dan Pimpinan pemerintahan gak ngasih contoh yang benar…. :( guru kencing berdiri… murid kencing berlari…. Pimpinan korupsi…. bawahan juga korupsi …. jadi korupsi kuadrat gituu….

Jaman begini…. kok masih ada aja orang yang berprilaku kayak gitu….. Tapi mudah2an generasi akan segera berganti…. dan generasiku akan menjadi generasi yang membangkitkan Indonesia menjadi bangsa yang cerdas, bermartabat dan punya kekuatan ekonomi + politik di dunia Internasional….

Weenapad, 25 Februari 2006…. nginep karena besok mau nganterin mbak Maya ke schipol…

Anak adalah titipan Ilahi….

Friday, February 24th, 2006

Hiks… lagi2 ngalamin perasaan gembira sekaligus sedih….

Salah satu sahabat aku mengabarkan kalo dia lagi hamil anak keduanya…. Seneng siy brarti aku punya satu keponakan lagi…. tapi dilain pihak aku juga sedih… karena udah hampir 1,5 tahun menikah aku masih belum ada tanda2 akan punya anak…. Kalo lagi ke pasar atau lewatin tempat penitipan anak dan bayi…. aku pati selalu terpaku, amaze dengan aura kebahagiaan yang terpancar disana…. Apalagi kalo lihat iklan kampanye johnson & johson…. having baby change everything….. Huaa…. tanpa sadar biasanya aku menitikkan air mata…. karena I want have a baby….

Waktu denger kabar gembira sahabatku itu… aku langsung cerita ke suami (karena suami sahabatku itu… sahabat suamiku) dan dia juga mengeluarkan reaksi yang sama…. dan pada akhirnya terbersit pertanyaan… kok kita belum dikaruniakan anak juga ya….. padahal beda tanggal pernikahan aku dan sahabat aku itu…. kurang dari 1 tahun…..

Jujur… pas waktu nulis ini…. aku gak sadar menitikkan air mata… ada rasa kecewa, iri, sekaligus takut kalo aku kufur nikmat kepada ALLAH atas segala yang telah aku miliki….. Tapi bukankah itu sangat manusiawi ya… pingin punya keturunan setelah melangsungkan pernikahan?

Hmm…mungkin itu kali ya…. yang dimaksud anak adalah titipan Ilahi….  ALLAH masih belum ngeliat aku & suami sebagai pasangan yang pantas untuk dititipkan amanah keturunan… kita jadi reflektif terkadang kita masih kekanakan… yang menjalankan gaya pernikahannya santai banget… (baca : kayak pacaran terus.. :p). Terus aku jadi keingetan guru ngajiku yang belum dikaruniakan anak walaupun udah nikah lebih dari 8 tahun…. atau inget dokter Nel, dokter obgin, yang selalu menolong ibu hamil & melahirkan, baru punya anak setelah menjelang 40 tahun….

Pasti ALLAH punya maksud baik dibalik takdir ini semua….

Hmm… kayaknya musti dihadapin begitu tu ya….positive thinking aja…. kalo enggak berabe…. bisa2 nangis terus menerus niy…. :D

Rotterdam, 24 Februari 2006, Di flat, abis chatting sama sahabatku Rahayu Utami