Permisif…. (menjawab tanggapan lisan teman baik mengenai blog “jaman beginee….”)

Seorang teman yang aku anggap cukup baik di Rotterdam memberikan komentar pribadinya mengenai blog-ku sebelumnya (jaman beginee….). Dia bilang siy… yah gimana.. si rektor itu juga manusia…. ya bisa aja punya salah…. pisahkan dong posisi si rektor sebagai jabatan dan si rektor sebagai seorang manusia….

Jujur aja aku jadi sewot campur kaget. Pertama, karena jawaban "ajaib" beliau… yang dikemas dalam bahasa yang sangat filosofis yang bisa "membuai" pendengarnya… kalo pendengarnya gak sadar dia lagi dibuai; Kedua, karena beliau juga konon salah satu petinggi di lembaga strategis Republik Indonesia yang mengatur strategi pembangunan jangka panjang ke depan.

Langsung aja aku tanggapi pendapatnya dia itu dengan menyampaikan bahwa rektor pasti merangkap pendidik, terkadang seorang (dalam hal ini rektor sebagai pendidik) akan susah dan akan sangat vital akibatnya apabila dia memisahkan "kemanusiawiannya" (baca : kecenderungan manusia untuk berbuat salah) dengan amanah pekerjaannya sebagai rektor. Kalo pandangan untuk memisahkan peran sebagai individu manusia dengan individu rektor… bukankah secara gak langsung kita jadi orang2 permisif yang membiarkan aja apa yang terlihat dan terpraktikan dengan salah (plus dalam hal ini violating idealism as a civil servant, which is yang seharusnya menjadi abdi negara… bukan abdi diri sendiri)?

Jujur agak gak enak juga siy, aku ngomong agak straight to the point gitu sama doi…mengingat doi termasuk civil servant…. apalagi doi jadi diem setelah aku ungkapin pemikiran aku kalo aku gak pengen jadi orang yang permisif dan bisa santai menjustifikasi masalah yang ada dengan permakluman2 yang menurut aku gak relevan… Tapi berhubung doi orangnya juga agak straight to the point… aku mikir straight to the point adalah pendekatan yang efektif dalam menyampaikan pemikiran aku ke beliau :p Jadi siy kita baek2 aja…. bahkan tetep ngobrol macem2 mengenai hal2 yang cukup menarik perhatian kita berdua.

Kalo mau reflektif lagi… mungkin ini kali ya cara ALLAH ngasih aku pelajaran kehidupan bahwa kita harus tetap jadi orang yang berpegang teguh pada prinsip… jangan sekali2 permisif, karena sekali permisif kita tanpa sadar akan digiring menjauh dan bisa jadi berbalik 180 derajat dengan prinsip yang kita anut sekarang.

Jadi teringat dengan profesor marketing aku yang terkenal dengan "hard man" atau "tough man" karena ketegasannya (baca: galak) menghadapi mahasiswa yang terlambat (even cuma 5 menit) atau mahasiswa free-rider yang sangat jelas terlihat gak punya andil dalam kerja kelompok (dia tidak segan mengeluarkan kata2 "keras" dalam mengingatkan atau memaki kesalahan si mahasiswa/i). To some extent, dia emang terlihat seperti diktator atau kapten di angkatan bersenjata dengan pengetahuan aplikasi & ilmu marketing yang sangat mendalam… (plus juga tajam sekali dalam menganalisa permasalah marketing di perusahaan). Tapi kalo dilihat mendalam… dia sebenernya gak mau jadi orang permisif dengan memberi permakluman2 bagi mahasiswa yang "laid-back" dan agak kurang bertanggungjawab… dan dia konsisten …. tegas menjaga prinsipnya itu…. Terbukti ketika dinamisasi kelas sudah berjalan dia sangat menghargai mahasiswa/i yang aktif di kelas plus terkadang bisa memberikan humor yang cukup buat kita tertawa dalam arti tertawa sebenernya….

Yah… memang akhirnya gak penting jadi orang yang populer…. lebih penting jadi orang yang konsisten, berjuang, dan tetap mempunyai prinsip luhur dalam hidup. Bak kata Peter Cuneo (mantan CEO Marvel Comics yang mengangkat Marvel dari kebangkrutan menuju ke perusahaan yang tumbuh kembali menjadi besar & terus naik performance-nya) di kuliah tamu RSM Erasmus University bulan lalu. Media, which lead you to popularity, akan buat kita menjadi orang yang merasa paling hebat…. padahal sebenernya media itu membunuh karakter kita sendiri… karena dengan pemberitaan media yang membuat kita merasa hebat… dan sukses membuat diri kita merasa paling hebat…. adalah cara "sukses" untuk gagal di kemudian hari…. karena ketika kita merasa paling hebat dan tidak butuh ilmu lagi… maka itulah saat awal kejatuhan kita sebagai seorang manusia…..

Hmm… kok jadi ngalor ngidul begini…. anyway, many thanks to Prof. Gordon Mardy, Mr. Peter Cuneo & Mr. MN…. dengan tangan2 kalianlah ALLAH SWT memberi saya salah satu pelajaran penting mengenai kehidupan

Schiedamse Vest, 26 February 2006.

Leave a Reply