Too Naive…

2 hari lalu pas makan malem di Dudok,

Geneva

(President Woman in Management Club…. organisasi dimana aku duduk sebagai Vice President-nya) bilang ke aku… Kalo lihat publikasi atau data…. lihatlah siapa dibalik orang data atau publikasi tersebut…. apakah objective atau enggak…. atau dia punya agenda tertentu yang diselipkan dengan manis….

Yah mungkin Geneva melihat aku terkadang “too naive” yang selalu berupaya tetap berpikiran positif ke orang lain dan juga tetap membuka diri terhadap hal-hal baru dengan basic self-principles yang kurang begitu kuat…..  2 hal pertama aku setuju dengan dia (alhamdulillah aku dididik oleh orang tua aku untuk tetap positive thinking & open minded dalam menjalankan hidupku)…. tapi masalah self-principles yang kurang begitu kuat…. ho ho …. tunggu dulu…. bisa jadi karena dia menemukan platform aku yang berbeda dengan dia dalam hal professional women development…. dia yang single… beda dengan aku yang sudah terikat (bahagia) dengan pernikahan…. aku selalu menyelipkan faktor2 kampanye nilai2 luhur keluarga seperti indahnya mengerjakan tugas domestik keluarga (termasuk menyenangkan suami) yang agak “konservatif”…. di antara aktivitas pengembangan perempuan sebagai seorang individu…. sementara kayaknya sih dia berseberangan dalam hal ini….

Kembali ke masalah “too naive” & agenda pihak2 tertentu dalam kampanye media…. jadi teringat dengan diskusi panas di milis mengenai RUU Anti Pornografi & Pornoaksi…. aku bingung kenapa sih ada sekelompok orang yang diskusinya lebih ke arah dialektika membingungkan (baca : membandingkan teori si anu dengan teori si entu  yang jelas2 bukan warga negara Indonesia yang gak paham kultur/karakteristik orang Indonesia)…. bukan pada bagaimana ke depannya, menjawab permasalahan sekarang dan menghilangkan hambatannya untuk kondisi yang lebih baik…. Jujur aku hampir tertawa geli… terbahak2 malah… dengan komentar salah satu orang yang bilang… kalau mendingan UU gak usah dibuat aja… biarkan orang muncul kesadaran sendiri… dengan mengutip teori si anu & si entu tsb.

Gimana gak mau ketawa coba… orang2 Eropa atau US yang kesadaran sendirinya lebih tinggi aja masih pake law enforcement… sementara orang Indonesia yang kesadarannya rendah (dalam berbagai hal) dianjurkan tidak memakai law enforcement… :p …. Pendapat aku pribadi, aku jadi agak2 kasihan sama mereka… mau terlihat intelek dengan mengutip teori2 sosial-kemasyarakatan malah jadi keblinger…. Hal yang sama aku temukan kalo baca artikel2 di Kompas mengenai RUU APP, weleh2 bisa2nya dibuat complicated dengan mengaitkan masalah RUU APP dengan masalah kajian kebebasan perempuan, ketidak efektifan UU dan yang paling parah isu disintegrasi…. Jujur aku jadi makin males baca kompas sekarang…. bener2 gak buat cerdas masyarakat, bertentangan dengan slogannya yang dulu…. dan bisa dibilang redaksional/artikel yang sekarang makin menyesatkan masyarakat. Dan kasus RUU APP ini bukan yang pertama… Masih inget dulu pas jamannya kontroversi Busway, Kompas lebih menyoroti masalah kemacetan yang ditimbulkan pembangunan busway dan pendapatan supir bus yang menurun… bukannya masalah urgennya sistem transportasi masal untuk

kota

yang berpenduduk di atas 10 juta jiwa….  Ck ck ck….siapa dibalik siapa nih?

Dalam posisi ini… aku bangga karena aku "too naive" dengan berbagai teori yang menurut aku agak konyol dan tidak pas dengan karakteristik kultur

indonesia

….Aku hanya perduli dengan

Indonesia

yang lebih baik dimasa depan…. Dan ini membuat aku berada pada posisi aku pro terhadap disahkannya RUU APP dengan alasan mendasar… sudah terlalu banyak (dan juga tren yang terus meningkat) tindakan kriminal/kejahatan seksual karena bebas beredarnya pornografi di masyarakat tanpa ada aturan yang jelas.

Walaupun orang bilang apa…. aku dibilang terlalu idealis lah…. atau I have good intention but not clever….. yo wis… terserah…. aku bangga kalo I’m "too naive" dengan memegang kuat prinsip dasar harus menyandarkan segala tindakanku dengan berkaca pada mata hati dan mendengarkan hati nurani…. karena posisi tersebut akan membuat aku bebas dari berbagai kepentingan/agenda yang berpotensi membuat aku jadi orang yang oportunis…. atau keblinger….

Mudah2an aku tetap bisa konsisten jadi orang yang "naive"

Schiedamse Vest, in the middle of searching ideas for my SM assignment… :D

One Response to “Too Naive…”

  1. FerRy Says:

    Hi Anna..Alles Goede?
    Hmmm…seneng mbaca tulisanmu…runtun, menggiring logika pembacanya dr lingkar luar ke lingkar dalam…gaya penulisan yg sentripetal…logic systematic way of thingking ente bener2 patut n bisa ditiru temen2 Stuneders…persis seperti yg Anna bilang..saya sendiri senyam senyum meringis membaca beberapa argumen temen2 stuneders yg keblingers..ga think forward..dan melebar dari permasalahan inti..bahkan terkesan bukan ide orisinil..(karena sy liat pendapat serupa di milis yg laen..heheh)..yuppp! cuma yahh…pendapat temen2 juga sy rasa patut dihargai..sy tunggu tulisan Anna berikutnya..n juga sy tunggu diskusinya yg seru kapan saja dimana saja…Tot Ziens!

Leave a Reply