Archive for April, 2006

Syukurku…. penuh rasa kupanjatkan… :)

Saturday, April 29th, 2006

Rumah_merpati Hari ini baru terima email dari suami… cerita progress report pembangunan rumah kita. Rumah yang insya ALLAH akan menjadi rumah yang berkah untuk aku, suami & anak2 kita.

Alhamdulillah rumahnya udah 90% jadi… tinggal pasang batu alam, beresin kamar mandi (kita minta special request… pake WC yang tipe sudut :p), dan hal2 yang bersifat finishing touch.

Setelah baca email tersebut sambil lihat2 foto yang lain Rumah_merpati_2 kayak tempat jemuran & kamar pembantu… aku merasa seperti orang yang paling beruntung di seluruh dunia. Pertama, aku punya loving husband, sosok tempat saling berbagi & merajut cita2 di masa depan; Kedua, udah punya rumah (tipe 54) yang sepertinya bisa tetep layak sampe punya anak dua orang…. walopun harus nyicil sampe 10 tahun ke depan ;p; ketiga, suamiku punya karir yang cukup bagus sehingga kita bisa "hidup" lumayan plus juga ngasih kontribusi ke orang tua, dan keempat, aku sendiri juga sedang mengalami proses pembelajaran baik personally maupun professionally di program RSM-MBA secara gratis disupport oleh pemerintah belanda. Not to mention that I also have a really supportive extended family (my parents, sister, parents in law) yang bener2 ngasih dukungan baik moral dan materiil, yang tanpa dukungan mereka… aku tidak dapat mencapai kondisi sekarang ini… :)

Emang memandang kehidupan itu tergantung dari kacamata bagaimana kita melihatnya…. kalo aku terus-menerus memandang dari kacamata negatif, merasa hidup ini tersiksa karena jauh dari suami dan terkadang merasa tertekan dengan hiperkompetisi…. yah kapan senengnya yak :p…. padahal ALLAH udah kasih banyak banget rahmatNya buat aku & keluarga. Kalo negatif terus kok lama2 terkesan gak bersyukur yak… dan aku gak pengen jadi orang yang gak bersyukur… :D

I’m so happy today…. dari tadi bulak-balik nyanyiin nasyidnya SNADA (sambil ngeliatin foto kawinan) :

A_89 …sebagai tanda… syukur pada yang Kuasa…. atas nikmat alam raya… untuk kita semua…….syukurku…. penuh rasa kupanjatkan…. (de es te)

Schiedamse Vest 38E, 3011 BA, Rotterdam

Mengembalikan Nilai Inti Perjuangan R.A. Kartini

Saturday, April 22nd, 2006

Perayaan hari R.A. Kartini yang selalu dilakukan dalam lingkup nasional dan dalam berbagai tingkatan umur, memicu rasa ingin tahu saya sejak masih duduk di bangku SD mengenai siapakah sebenarnya R.A. Kartini. Motivasi awal saya mempelajari sosok ini didorong oleh rasa penasaran untuk mengetahui apa sajakah yang dilakukannya, yang membuat banyak siswi TK dan SD harus mengenakan busana kebaya yang menjadi busana nasional Indonesia pada acara perayaan hari kelahiran beliau.

Proses pembelajaran saya mengenai R.A. Kartini ternyata tidaklah pendek. Dimulai ketika mendengarkan riwayat R.A. Kartini yang disampaikan ibu dan nenek saya ketika saya belum lancar membaca, membaca biografi pahlawan Indonesia yang memuat R.A. Kartini di dalamnya, sampai  mengikuti kajian mengenai perjuangan R.A. Kartini pada kajian pemberdayaan perempuan ketika kuliah program S1 dulu. Proses pembelajaran tersebut akhirnya membawa saya mengerti siapakah sosok R.A. Kartini itu. Kesimpulan  yang saya peroleh, R.A. Kartini memang seorang perempuan yang luar biasa, sosok yang lebih maju daripada perempuan pada umumnya di zaman ketika beliau hidup. Hal ini terlihat dari cara beliau menuturkan pemikirannya, sikap dalam menjalani hidup serta tindakan nyata yang dilakukannya dalam menjawab permasalahan sosial.

Setidaknya terdapat empat hal menarik yang saya temukan dalam karakter R.A Kartini pada proses pembelajaran makna perjuangan beliau. Pertama, Bagaimana R.A. Kartini dapat mengemukakan pikirannya dengan lugas dan cerdas. Hal terlihat pada contoh bagaimana R.A. Kartini dapat menyampaikannya dengan baik bahwa budaya bangsawan Jawa yang kaku menghalangi kemajuan perempuan Jawa. Cara penyampaiannya yang cerdas menarik banyak simpati publik terutama pihak pemerintah Belanda yang sedang melakukan kebijakan politik etis.

"Sesungguhnya adat sopan santun kami orang Jawa amatlah rumit. Adikku harus merangkak bila hendak berlalu di hadapanku. Kalau adikku duduk di kursi saat aku lalu, haruslah segera ia turun duduk di tanah dengan menundukkan kepala sampai aku tidak kelihatan lagi. Adik-adikku tidak boleh ber-kamu dan ber-engkau kepadaku. Mereka hanya boleh menegur aku dengan bahasa kromo inggil (bahasa Jawa tingkat tinggi). Tiap kalimat yang diucapkan haruslah diakhiri dengan sembah.





Berdiri bulu kuduk bila kita berada dalam lingkungan keluarga bumiputera yang ningrat. Bercakap-cakap dengan orang yang lebih tinggi derajatnya harus perlahan-lahan sehingga hanya orang yang di dekatnya sajalah yang dapat mendengar. Seorang gadis harus perlahan-lahan jalannya,langkahnya pendek-pendek, gerakannya lambat seperti siput. Bila berjalan agak cepat dicaci orang, disebut kuda liar"





Surat Kartini kepada Stella, 18 Agustus 1899


Sikap asertif dan kemampuan R.A. Kartini menyampaikan ide dengan baik ini juga terlihat dalam keberhasilannya di kemudian hari, membuat suaminya mengerti apa yang dia perjuangkan, sehingga ide membuka sekolah baru untuk perempuan setelah beliau menikah tidak hanya disetujui tetapi juga didukung penuh oleh suaminya.

Kedua, R.A. Kartini memiliki jiwa kepemimpinan dan kepedulian sosial yang sangat tinggi. Di tengah ketidakberdayaan perempuan pada zamannya, R.A. Kartini tidak jatuh pada hidup yang meratapi nasib melainkan menjawab permasalahan dengan membuka sekolah untuk perempuan. Walaupun sekarang sudah dikatakan zaman modern, tapi saya yakin tidak banyak perempuan di Indonesia ataupun di belahan manapun di dunia yang aktif melakukan inisiatif dalam rangka melakukan perubahan menjawab permasalahan yang terjadi di masyarakat.

Ketiga, R.A. Kartini memiliki cara berpikir analitis dan strategis. Beliau dapat membaca situasi sosial masyarakat, dalam hal ini dapat melihat bagaimana pengaruh bangsawan dalam melakukan aksi nyata menuju arah yang lebih baik. Seperti yang dikatakannya bahwa apabila kaum bangsawan melakukan perubahan maka rakyat kecil akan mengikutinya.

Keempat, R.A. Kartini memiliki pikiran yang terbuka terutama dengan nilai-nilai dunia barat tetapi juga sadar akan identitasnya sebagai manusia Indonesia yang menjunjung nilai ketimuran yang sopan. R.A. Kartini sadar bahwa dirinya berbeda dengan bangsa barat. Hal ini terlihat dengan penuturannya pada kutipan surat beliau berikut ini.

"Perduli apa aku dengan segala tata cara itu, segala peraturan-peraturan, semua itu bikinan manusia dan menyiksa diriku saja. Kau tidak dapat membayangkan bagaimana rumitnya etiket di dunia keningratan Jawa itu.


Tapi sekarang mulai dengan aku, antara kami (R.A. Kartini, Roekmini & Kardinah) tidak ada tata cara lagi. Perasaan kami sendiri yang akan menentukan sampai batas-batas mana cara liberal itu boleh dijalankan".





Surat R.A. Kartini kepada Stella, 18 Agustus 1899


Idealisme yang diperjuangkan R.A. Kartini (1879-1904) ini telah dinikmati oleh kaum perempuan pada zaman sebelum perang kemerdekaan. Generasi yang lahir pada tahun 1920-an adalah contoh nyata bagaimana R.A. Kartini meningkatkan taraf hidup kaum perempuan Indonesia. Nenek saya (lahir 1923) dan kawan-kawannya memiliki tingkat pendidikan yang baik pada saat itu. Pendidikan terakhir beliau adalah sekolah guru (di atas pendidikan kakek saya yang ”hanya” MULO) yang dalam kegiatan pengajarannya dilakukan dalam bahasa pengantar bahasa Belanda. Nenek saya akhirnya dapat mencapai cita-citanya berprofesi sebagai guru, profesi yang sangat dihormati pada zaman tersebut. Kemudian dalam aspek kehidupan yang lain, nenek saya dan teman-temannya tergabung dalam laskar putri yang juga berjuang dalam perang kemerdekaan, dan pangkat nenek saya adalah Mayor dalam laskar yang dipimpinnya itu.

Perjuangan dan perjalanan hidup R.A. Kartini telah menjadi sebuah inspirasi unik yang bersifat nasional (bukan hanya sekedar suku Jawa saja) yang membawa perempuan Indonesia menjadi manusia yang utuh, tidak hanya berkontribusi dalam tataran domestik/keluarga besar saja, tapi juga bisa berkontribusi nyata kepada masyarakat. Nenek saya bersama teman-temannya adalah contoh dari perempuan Indonesia yang telah menikmati menjalankan peran utuh sebagai seorang perempuan. Mencintai dan dicintai suami dan keluarganya, setia dan memberikan dukungan penuh kepada suami, melahirkan dan mendidik sebelas anaknya dengan baik, serta tetap memberikan sumbangsihnya kepada masyarakat terutama dalam hal bidang pendidikan dan pengajaran.

Karakter luhur dari R.A. Kartini sedikit banyaknya cukup sukses diaplikasikan oleh Nenek saya & teman-temannya. Hal yang baik ini terus diwariskan kepada generasi anak-anak mereka, generasi yang lahir setelah kemerdekaan Indonesia. Selain itu, pada masa awal kemerdekaan Indonesia, perjuangan R.A. Kartini telah membentuk demokrasi Indonesia yang langsung menerima aspirasi perempuan dalam pemilihan umum. Indonesia adalah negara yang memberlakukan hak pilih yang sama antara perempuan dan laki-laki secara langsung pada pemilihan umum pertama setelah kemerdekaan. Sebagai perbandingan, USA memberikan hak pilih kepada warga negara perempuan-nya pada awal abad ke-20, lebih dari seratus tahun setelah kemerdekaannya.

Mengikuti jejak R.A. Kartini, nenek saya mewariskan nilai yang sama kepada Ibu saya bagaimana harus menjadi wanita seutuhnya. Ibu saya yang cerdas sempat menikmati kuliah di Fakultas Kedokteran sampai tingkat III, yang mana tidak sempat diselesaikan karena harus membantu ayah dan ibunya bekerja membiayai adik-adiknya yang berjumlah sepuluh orang ketika krisis tahun 1960-an. Walaupun begitu, semangat ”R.A. Kartini” untuk berkontribusi pada perbaikan masyarakat yang diwariskan oleh Nenek saya tetap diusung tinggi. Ibu saya bekerjasama dengan teman-temannya telah membangun sekolah yang kini masih berdiri di pedalaman Sulawesi dan sekarang juga mengelola sekolah yang relatif murah untuk lingkungannya. Beliau juga aktif dalam pergerakan perempuan yang berfokus pada pendidikan dan nilai-nilai keluarga.

Kemudian, pada kurun waktu yang lebih kekinian, perkembangan perjuangan R.A. Kartini dapat dikatakan mengalami pergeseran nilai yang justru menjauhi nilai inti perjuangannya. Hal tersebut terbukti ketika mencari bahan & referensi untuk makalah ini. Perjuangan R.A. Kartini telah menjadi komoditi dalam perang pemikiran yang kontraproduktif terhadap penyebaran nilai inti perjuangan R.A. Kartini itu sendiri. Pertama adalah pengkultusan R.A. Kartini yang membuat segala pemikiran yang ditawarkan oleh R.A. Kartini adalah kebenaran, dan kedua, kenyataan bahwa kampanye pemikiran pemberdayaan perempuan yang tidak seimbang.

Masalah pengkultusan R.A. Kartini ini terlihat dengan banyaknya buku ataupun artikel yang menganalisa mentah-mentah apa yang diucapkan R.A. Kartini tanpa dikaji lebih dalam. Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada R.A. Kartini, dalam makalah ini saya ingin menyampaikan bahwa R.A. Kartini adalah seorang manusia yang terus belajar, dan sebenarnya hal tersebut sangatlah terlihat dalam kumpulan surat R.A. Kartini yang ”utuh”.  Sebagai contoh, banyak pihak yang mempertanyakan mengapa R.A. Kartini akhirnya menerima poligami, padahal di awal kumpulan surat-suratnya beliau sangat menentang praktik tersebut. Fakta ini juga sejalan dengan kenyataan bagaimana R.A. Kartini mempertanyakan pada awal surat-suratnya mengapa harus membaca kitab suci agamanya tanpa tahu artinya, tapi pada surat beberapa tahun berikutnya menyatakan bahwa R.A. Kartini akhirnya bisa memahami arti kitab suci tersebut, yang mana surat terakhir tersebut di bawah ini, tidak pernah ada dalam buku Habis Gelap terbitlah Terang.




"Kyai, selama hidupku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama dan indukAl-Quran yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku. Maka bukan buatan rasa syukur hati aku kepada Allah SWT. Namun aku heran tak habis-habisnya, mengapa selama ini para ulama kita melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al-Quran dalam bahasa Jawa? Bukankah Al-Quran itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?"





"Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik hal yang indah dalam masyarakat ibu tedapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?"





Surat R.A. Kartini kepada Ny. E.E. Abendanon, 27 Oktober 1902


Hal yang ingin saya sampaikan di sini adalah pengkultusan individu R.A. Kartini telah membuat apa yang diyakini R.A. Kartini adalah sebuah kebenaran dan akhirnya seolah-olah menjadi komoditi dalam menjual ideologi/pemikiran yang dilakukan secara sepihak. Dalam hal ini praktik mengutip surat-surat R.A. Kartini dengan tidak utuh.

Kemudian terkait dengan kampanye pemberdayaan perempuan di Indonesia yang tidak berimbang, kenyataan bahwa banyak artikel dan buku yang dalam menjelaskan alasan di balik perlunya pengembangan perempuan adalah karena perempuan merupakan korban penindasan laki-laki. Hal ini juga didukung oleh pemaparan data-data mengenai kekerasan rumah tangga, sehingga secara implisit ada penyampaian pesan sebaiknya perempuan tidak menikah karena akan menyiksa dirinya sendiri dan memperlambat kemajuan eksistensi sosialnya.  Di sini R.A. Kartini kembali dijadikan komoditi dalam mempromosikan ideologi radikal tersebut dengan mengutip analisa bahwa akhirnya R.A Kartini kalah dalam tekanan sosial dan pasrah dengan kenyataan menerima poligami. Padahal dari kumpulan tulisannya dapat kita temukan bahwa ketika R.A. Kartini menikah beliau tetap berkontribusi ke masyarakat melalui pendirian sekolah yang didukung penuh oleh suaminya, serta juga melakukan tugas paling mulia sebagai perempuan dengan melahirkan putranya.

Sebagai penutup, saya ingin mengajak para pembaca makalah ini untuk kembali merenungi apa makna di balik perjuangan R.A. Kartini. Mengembalikan nilai inti perjuangan R.A. Kartini dengan meneladani perbuatan luhurnya dalam memperbaiki kondisi sosial, meneladani sikap hidup yang bijak, serta  tentunya menerapkan ”karakter R.A. Kartini” dalam kehidupan sehari-hari, bukan dengan melakukan debat ”ideologis” mengenai masalah pemberdayaan perempuan. Dengan demikian perjuangan R.A. Kartini dalam meningkatkan martabat perempuan Indonesia pada khususnya dan martabat rakyat Indonesia pada umumnya dapat terwariskan secara terus-menerus di masa depan.

o – o – o – o

"Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjalanan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya : menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama".





Surat R.A. Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902


 

Referensi :

1. Ringkasan biografi : http://en.wikipedia.org/wiki/Kartini , www.tokohindonesia.com

2. Karimah, Asma, Tragedi Kartini : Sebuah Pertarungan Ideologi, Hanifa, Jakarta, 1994

3. Human Development Report 2005, Woman’s political participation, United Nation

4. dan sumber-sumber lainnya

My sister….

Monday, April 17th, 2006

Pict0368 Hari ini hari lahirnya my lovely sister…  an inspiring young women that has a really big passion on her life…

Ibuch is a really smart young lady… banyak hal yang aku pelajarin dari dia… terutama masalah kerja keras dan persistent dalam menggapai cita2. Selain itu dia juga ngasih contoh dengan tindakan nyata bagaimana commit & support keluarga besar aku yang lagi gak dalam kondisi "beruntung"

Ibuch juga punya mental baja… ditempa berbagai cobaan tapi dia tetap survive… dan menjadi manusia yang lebih baik… setelah cobaannya itu berlalu..

Ibuch juga ngangeni…. she is one of my best friend… tempat cerita2 yang menyenangkan … baik topik yang serius (kayak kontribusi ke masyarakat) sampe diskusi milihin baju si Hakim… our lovely nephew…. 

On her birthday… I just wish & pray… hope she will get the best for her life…. since with her quality…she deserve the best… best partner (husband wanna be), best career, and best living quality….

Pict0316 Love U much sist’… Love & hugs… (foto ibuch-di tengah, sama dua sepupu aku Ibur(ina) & Ibud(ini)

Rendah hati, kurang PD dan proses pembelajarn :p

Wednesday, April 12th, 2006

Mungkin ini kali ya yang dinamakan proses pendewasaan… kita ditabrakin ke satu ekstrim ke ekstrim lainnya untuk mengetahui dimana posisi seimbang. Dulu aku punya rasa percaya diri yang sangat tinggi… mungkin bagi orang yang belum kenal, aku akan terkesan mendominasi, tidak mau mendengar orang lain, sok (tahu) dan to some extent menyebalkan. Terus mulai deh dapet banyak masukan kalo rendah hati itu justru akan lebih menguntungkan daripada over PD yang berani mati… and I completely agree with that.

Tapi seiring pembelajaran aku di RSM ini, (baik personal, profesional maupun akademikal) sikap rendah hati yang aku pingin aku terapkan dalam hidup ternyata bertransformasi negatif menjadi rendah diri…. karena ditempa dengan iklim hiperkompetisi yang kuat. Yup aku jadi kehilangan rasa PD dalam menghadapi apapun… jadi negatif… takut mencoba… takut gak bisa… takut terlihat bodoh.. bener2 silly. Kalau aku coba share mengenai ke tidak PD-an aku ini  ke sahabat/temen deket aku yang udah kenal aku lebih dari 5 tahun… mereka sama sekali gak percaya… bahkan mengira kalo aku lagi becanda… terus ketika aku bilang hal itu beneran terjadi.. mereka ketawa terbahak2.. dan bilang itu bukan elo banget lagi…. aku merenung… dan aku terus bergerak berusaha menemukan kembali konsep diriku yang lebih positif …

Yah emang sahabat/teman dekat adalah harta yang tak ternilai… pengingat & penyemangat kita. Dan terkadang mereka lebih mengenal kita daripada kita sendiri. Jadi teringat sahabat terdekatku sekarang… yup, my lovely husband Rendy Primartantyo… kalo aku curhat mengenai rasa ketidak PDan aku ini… dia selalu bilang… "ah itu hanya perasaan kamu aja lagi… istriku gak kayak gitu kok sebenernya (baca: bodoh & tidak PD-an)"… dan aku langsung menganggap kalo dia tidak berbicara hal yang sebenernya karena cuma pengen menghibur aja…. dan karena aku gak mau percaya… aku masih terjerembab dalam konsep diri yang negatif… konsep diri yang tidak balance….. tidak percaya diri akibat transformasi rendah hati menjadi rendah diri….

Tapi hari ini ada pembelajaran mengenai menemukan keseimbangan antara rendah hati & percaya diri. Yah menemukan kembali diriku yang dulu, diriku yang memandang dunia dengan kacamata indah & optimis, berani belajar, berani gagal, tidak takut mencoba, tidak takut terlihat bodoh… tapi tentunya sekarang (pinginnya) juga dibungkus indah dengan kerendahan hati….. :)

Iya pada hari yang indah ini… aku dikabarkan oleh profesor Strategic Management aku… kalo tugas paper aku adalah salah satu yang terbaik di kelas… dan dia minta aku (dan 6 orang lainnya yang papernya dianggap terbaik) dari populasi kelas yang berjumlah 52 orang untuk mempresentasikan paper tersebut besok. Ternyata aku gak "sebodoh" yang aku kira dan ketika aku ceritain ini ke suami… dia cuma bilang… "aku bilang juga apa… " dan aku cuma ketawa aja… sambil dalam hati berkata… makasih ya mas.. moga2 kondisi kita yang saling mendukung seperti ini akan everlasting ya sampai maut memisahkan kita nanti…

Today’s learning : aku belajar dua hal penting dalam menjalankan kehidupan… "kacamata" yang positif dalam memandang sesuatu… dan betapa berharganya significant others (sahabat, keluarga, dsb) yang  bisa saling terus mensuport pengembangan diri kita dalam menjalani kehidupan & mempelajarai makna dibaliknya.

#ditulis dengan perasaan bersyukur memperoleh sahabat yang sangat setia dalam kondisi apapun… dan hal yang lebih menyenangkan lagi, ketika menyadari sahabat sejatiku adalah suamiku sendiri Mas Rendy Primartantyo#

Belajar (lagi)…

Monday, April 10th, 2006

"Tuntutlah ilmu (belajar) dari buaian sampai liang lahat" (kutipan bebas dari Hadits).

Kalo ngalamin rasa jenuh kayak gini (apalagi kalo dibumbui rasa minder & gak PD), baca2 blognya sekolah alam  mengenai proses pembelajaran murid2nya( http://saciganjur.blogspot.com )… atau blog salah satu teman baikku ( http://lestia.blogspot.com ) yang sekarang memanage sebuah SD di kawasan kemang yang isinya mengenai hal2 yang terjadi di kelasnya dia…..  bener2 jadi hiburan….

Why? simple aja… karena akan ngingetin aku kalo kehidupan ini adalah "sekolah kita seumur hidup"…. Tempat kita belajar untuk memberi kontribusi yang terbaik untuk diri kita dan orang yang kita cintai; sensitif dan peduli terhadap lingkungan sekitar; menghargai perbedaan tanpa harus kehilangan identitas… dan juga resiliency dalam menghadapi kenyataan yang terkadang  tidak sesuai dengan keinginan/harapan kita….

Kalo udah mikir sampe kayak gitu… aku jadi keingetan lagi mau aku jalanin kayak apa hidupku ini….which are.. aku pingin hidup aku bisa menebarkan kasih dan sayang kepada keluarga + orang2 sekitar, juga mungkin bisa share materi kepada orang yang gak seberuntung aku, plus membina keluarga bersama suamiku tercinta…. Kalo udah "keingetan" kembali…hati ini jadi sedikit lebih tenang menghadapi resah & gundah yang sering kali datang… entah dalam bentuk ketakutan akan diskriminasi, merasa bodoh, takut hubungan aku & suami jadi renggang, ataupun hal2 silly lainnya yang bisa buat aku memandang dunia dari sisi pesimistis yang sama sekali gak indah….

Yah terkadang emang kita harus belajar dari adik2 kecil kita yang masih jernih pikirannya…. yang berpikir sesuai dengan kata hati dan hati nurani mereka… simple, konkrit tanpa ada motif tertentu dalam bersikap dan bertingkahlaku…. sehingga bisa tetap melihat dunia dari sisi optimis yang pastinya menyenangkan…

#udahagaktenangansetelahngalaminkangensuamiakutdanminderkelastinggi#

Kalut… :’(….. :)

Thursday, April 6th, 2006

Kenapa sih setiap kabar temen atau sodara yang hamil atau melahirkan itu bisa buat kalut diriku ini?

Adek kelasku di SMA (2 tahun lebih muda) baru aja melahirkan…. bayinya lucu banget… dan muka bahagia terpancar dari dia & suaminya (yang juga adek kelasku di SMA). Terus biasa deh… jadi agak2 mewek, terus jadi keingetan suami… kangen berat… sukses deh nangisnya…. :p

Baru aja aku chat (baca : setengah curhat) sama temen sekampus yang juga "senasib" … dia nikah bahkan lebih lama lagi (udah mau masuk tahun ke empat), jadi ketawa/i … mendiskusikan kondisi kita yang sama, kayak ditanyain orang2 kapan punya anak, "diajarin" masalah "posisi", disuruh makan ini, minum itu, suami gak boleh taro hp di pinggang (takut ngerusak bibitnya :D)…. seolah2 kayak kita gak pengen punya anak aja….. padahal kan kita pengen banget … :p               Aku jadi bisa ketawa2 lagi… makasih ya Dhila…. :)

"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan" (QS.Ar-Rahman)… yah harus dilihat kayak gitu… udah banyak nikmat ALLAH yang telah aku nikmatin selama ini…. orangtua yang baik; suami soleh, suportif & pengertian; plus sekolah S2 yang bagus dan gratis (padahal kalo biaya sendiri bisa habis 700 juta-an rupiah). Sementara gak usah jauh2, kakakku (walopun punya karir & gaji yang cemerlang) masih belum menemukan pendamping hidup… plus juga masih usaha biar bisa sekolah buat MBA…

Ditambah lagi dua hari yang lalu… aku keluar kota ke pelosok paling selatan belanda, abis wawancara terus silaturahim ketemu temen di UI dulu yang masih dalam tahap menunggu sang pangeran datang… dia cerita kegundahannya mengenai dia perlu pendamping agar hidupnya lebih tenang dan seimbang, yang aku bisa ngerti banget, karena aku udah jauh melewati tahapan itu….

Segala sesuatu itu emang harusnya disyukuri ya… karena Insya ALLAH akan menambah nikmat kehidupan, tapi kalo ngeluh (baca : komplain meluluan & gak bersyukur) azab ALLAH yang konon sangat pedih akan datang menimpa kita… dan aku gak mau hal tersebut terjadi sama aku…. :p

# Schiedamse Vest 38E, Masih terus belajar untuk selalu bersyukur #

Diskriminasi rasial…

Sunday, April 2nd, 2006

Saat pertama kali masuk kampus RSM di gedung J, Woudestein campus, Erasmus University, diskriminasi rasial adalah hal yang gak akan pernah aku pikirkan sebelumnya. Gimana enggak, Brand RSM sebagai business school adalah business school paling multikultural di seluruh dunia. Tidak akan ada dominasi kultur dari suatu negara, karena 98 participant  MBA07 datang dari 35 negara di dunia….

But… ternyata… yang namanya rasis di dunia pasti ada.. apalagi dari negara2 di Eropa … Sebagai orang asia…dari negara dunia ketiga…..perempuan… dan memakai jilbab… bener2 (kayaknya) buat aku jadi ”sasaran empuk” para rasis.

Uggh… sebel… aku gak perlu ahh.. cerita disini mengenai apa yang aku alami sama para (maaf) “bitch” rasialis di kampus…. yang gak suka ngeliat orang Asia atau Muslim di sekitar mereka maju. Sakit hati banget….

Jadi daripada sakit hati, mendingan biar konstruktif, aku ngambil pelajaran di balik UU Imigrasi-nya Belanda oleh yang digagas oleh sang nyonyah Rita Verdonk (menteri Imigrasi Belanda sekarang ini) atau UU Imigrasi US yang baru terkait dengan kaum imigran pendatang yang secara implicit bisa bilang kalo imigran itu adalah kriminal… yang sedikit banyak akan berhubungan dengan diskriminasi rasial.

Sebelum menginjakan kaki di Belanda… aku mikir… bakal berhadapan dengan cicit2nya kaum VOC yang telah mengeruk hasil keuntungan dari Indonesia atas penjajahan jaman sebelum Indonesia merdeka dulu… dan akan mandang Amsterdam dengan sebelah mata karena kota tersebut didirikan, secara kasarnya oleh keringat dan darah kakek/nenek atau buyut2 orang Indonesia….

Ternyata dugaan saya… salah besar….saya lebih gampang menemukan orang Turki, Maroko atau Asia (cina, India & Indonesia) di tengah kota daripada orang belanda yang caucasoid.  Yup… para imigran terkesan cukup mendominasi populasi di Belanda secara khusus dan negara2 di Eropa/USA pada umumnya… (masih segar di ingatan kasus kerusuhan paris sekitar bulan Oktober-November tahun lalu…). Sementara orang Eropa sendiri yang lebih memilih gaya hidup tidak menikah dan punya hewan peliharaan, atau homoseksual paling2 ditemukan di daerah pinggir kota… itu pun kebanyakan udah oma dan opa.

Gak heran kalo orang Eropa atau US “ketakutan” amat sangat karena mereka mengalami aging population yang akut… pertumbuhan penduduk Caucasoid di bawah nol… alias negative.. Sehingga gak heran kalo sekarang ini untuk masuk negara Uni Eropa/US sangatlah susah…. alasannya bukan pada ketakutan mereka terhadap terorisme (seperti dugaan awal aku)… tapi lebih ke arah takutnya masuknya para imigran (yang ingin berganti warga negara)… yang ”senang berkeluarga & punya anak” sehingga mengancam komposisi populasi…..

Kebencian mereka itu ternyata juga ”ditularkan” ke anak2 dan bahkan cucu2 mereka… pernah ketika pulang dari kampus… ketemu anak perempuan (+/- 5 tahun) sama ibunya di tram yang aku naikin tiap hari… ngeliat anak kecil biasa dong…. aku senyumin… karena anak kecil menurut aku cute & lucu… reaksinya ternyata di luar dugaan aku…. dia ngebuang muka dengan muka senga’, persis kayak reaksi salah satu temen kampus yang berkebangsaan Eropa… yang menurut aku (dan mungkin temen2 Asia di kampus) rasis banget.

Digituin sama anak kecil, aku Cuma bisa bilang dalam hati…. aduh dek,.. kamu kok kecil2 udah ”bitchy” gitu sih…. gimana kalo udah gede ya…. sambil ngelus dada antara kasian & sebel sama itu anak….

Kembali ke masalah imigran… yup selain ketakutan akan ancaman terhadap komposisi populasi…. kaum imigran emang lebih produktif dibanding warga caucasoid. Temenku yang dari US (tapi gak rasis) bilang…. Ibunya lebih suka minta bantuan gardener orang Indonesia atau Mexico… karena mereka lebih bekerja keras dan rajin… dengan bayar tarif yang sama, kualitas & kuantitas pekerjaannya setara dengan 2-3 orang caucasoid. Terus hal yang sama juga terjadi dengan kontraktor bangunan yang lebih memilih kaum imigran meksiko yang lebih rajin dan mau dibayar sistem kontrak (tidak ikutan serikat buruh… yang biasanya menghasilkan orang yang malas/santai tapi pengen dibayar mahal).

Dari kondisi kayak gini aku jadi menarik pelajaran… kita sebenernya gak kalah sama orang2 Eropa / US kok, mereka Cuma menang di agresif & lebih percaya diri aja…. yang aku pikir ini emang bawaan kultur & cara didik mereka… Beda dengan cara didik Asia di mana orang yang ”humble” lebih dihargai dan harmonisasi hubungan & keseimbangan hidup adalah hal yang penting.

So, kalo harus ngadepin orang2 rasis kayak gitu sekarang…. aku akan bilang aja ”what’s ur problem… don’t you know that your action’s make me uncomfortable”…. yeah… emang musti gitu… jangan gara2 kultur kita yang ingin menyenangkan orang dijadikan sarana bagi para Caucasoid rasis untuk menginjak2 harkat & martabat kita (baca : kaum pendatang dan atau bangsa non caucasoid) sebagai manusia….

Erasmus MC, lagi cari2 koneksi internet… gara2 koneksi internet di flat down… :D