Diskriminasi rasial…

Saat pertama kali masuk kampus RSM di gedung J, Woudestein campus, Erasmus University, diskriminasi rasial adalah hal yang gak akan pernah aku pikirkan sebelumnya. Gimana enggak, Brand RSM sebagai business school adalah business school paling multikultural di seluruh dunia. Tidak akan ada dominasi kultur dari suatu negara, karena 98 participant  MBA07 datang dari 35 negara di dunia….

But… ternyata… yang namanya rasis di dunia pasti ada.. apalagi dari negara2 di Eropa … Sebagai orang asia…dari negara dunia ketiga…..perempuan… dan memakai jilbab… bener2 (kayaknya) buat aku jadi ”sasaran empuk” para rasis.

Uggh… sebel… aku gak perlu ahh.. cerita disini mengenai apa yang aku alami sama para (maaf) “bitch” rasialis di kampus…. yang gak suka ngeliat orang Asia atau Muslim di sekitar mereka maju. Sakit hati banget….

Jadi daripada sakit hati, mendingan biar konstruktif, aku ngambil pelajaran di balik UU Imigrasi-nya Belanda oleh yang digagas oleh sang nyonyah Rita Verdonk (menteri Imigrasi Belanda sekarang ini) atau UU Imigrasi US yang baru terkait dengan kaum imigran pendatang yang secara implicit bisa bilang kalo imigran itu adalah kriminal… yang sedikit banyak akan berhubungan dengan diskriminasi rasial.

Sebelum menginjakan kaki di Belanda… aku mikir… bakal berhadapan dengan cicit2nya kaum VOC yang telah mengeruk hasil keuntungan dari Indonesia atas penjajahan jaman sebelum Indonesia merdeka dulu… dan akan mandang Amsterdam dengan sebelah mata karena kota tersebut didirikan, secara kasarnya oleh keringat dan darah kakek/nenek atau buyut2 orang Indonesia….

Ternyata dugaan saya… salah besar….saya lebih gampang menemukan orang Turki, Maroko atau Asia (cina, India & Indonesia) di tengah kota daripada orang belanda yang caucasoid.  Yup… para imigran terkesan cukup mendominasi populasi di Belanda secara khusus dan negara2 di Eropa/USA pada umumnya… (masih segar di ingatan kasus kerusuhan paris sekitar bulan Oktober-November tahun lalu…). Sementara orang Eropa sendiri yang lebih memilih gaya hidup tidak menikah dan punya hewan peliharaan, atau homoseksual paling2 ditemukan di daerah pinggir kota… itu pun kebanyakan udah oma dan opa.

Gak heran kalo orang Eropa atau US “ketakutan” amat sangat karena mereka mengalami aging population yang akut… pertumbuhan penduduk Caucasoid di bawah nol… alias negative.. Sehingga gak heran kalo sekarang ini untuk masuk negara Uni Eropa/US sangatlah susah…. alasannya bukan pada ketakutan mereka terhadap terorisme (seperti dugaan awal aku)… tapi lebih ke arah takutnya masuknya para imigran (yang ingin berganti warga negara)… yang ”senang berkeluarga & punya anak” sehingga mengancam komposisi populasi…..

Kebencian mereka itu ternyata juga ”ditularkan” ke anak2 dan bahkan cucu2 mereka… pernah ketika pulang dari kampus… ketemu anak perempuan (+/- 5 tahun) sama ibunya di tram yang aku naikin tiap hari… ngeliat anak kecil biasa dong…. aku senyumin… karena anak kecil menurut aku cute & lucu… reaksinya ternyata di luar dugaan aku…. dia ngebuang muka dengan muka senga’, persis kayak reaksi salah satu temen kampus yang berkebangsaan Eropa… yang menurut aku (dan mungkin temen2 Asia di kampus) rasis banget.

Digituin sama anak kecil, aku Cuma bisa bilang dalam hati…. aduh dek,.. kamu kok kecil2 udah ”bitchy” gitu sih…. gimana kalo udah gede ya…. sambil ngelus dada antara kasian & sebel sama itu anak….

Kembali ke masalah imigran… yup selain ketakutan akan ancaman terhadap komposisi populasi…. kaum imigran emang lebih produktif dibanding warga caucasoid. Temenku yang dari US (tapi gak rasis) bilang…. Ibunya lebih suka minta bantuan gardener orang Indonesia atau Mexico… karena mereka lebih bekerja keras dan rajin… dengan bayar tarif yang sama, kualitas & kuantitas pekerjaannya setara dengan 2-3 orang caucasoid. Terus hal yang sama juga terjadi dengan kontraktor bangunan yang lebih memilih kaum imigran meksiko yang lebih rajin dan mau dibayar sistem kontrak (tidak ikutan serikat buruh… yang biasanya menghasilkan orang yang malas/santai tapi pengen dibayar mahal).

Dari kondisi kayak gini aku jadi menarik pelajaran… kita sebenernya gak kalah sama orang2 Eropa / US kok, mereka Cuma menang di agresif & lebih percaya diri aja…. yang aku pikir ini emang bawaan kultur & cara didik mereka… Beda dengan cara didik Asia di mana orang yang ”humble” lebih dihargai dan harmonisasi hubungan & keseimbangan hidup adalah hal yang penting.

So, kalo harus ngadepin orang2 rasis kayak gitu sekarang…. aku akan bilang aja ”what’s ur problem… don’t you know that your action’s make me uncomfortable”…. yeah… emang musti gitu… jangan gara2 kultur kita yang ingin menyenangkan orang dijadikan sarana bagi para Caucasoid rasis untuk menginjak2 harkat & martabat kita (baca : kaum pendatang dan atau bangsa non caucasoid) sebagai manusia….

Erasmus MC, lagi cari2 koneksi internet… gara2 koneksi internet di flat down… :D

Leave a Reply