Archive for May, 2006

MBAT stories part 1 - opening ceremony

Monday, May 29th, 2006

Tanggal 25 - 28 Mei 2006 yang lalu

RSM-Erasmus

University

ikut berpartisipasi dalam MBA Tournament di HEC,

Paris

. Banyak banget kejadian yang bener2 buat aku bersyukur karena betapa banyaknya kesempatan yang ALLAH kasih ke aku dalam hal menjadi manusia pembelajar di event yang mengumpulkan +/- 1600 MBA participant dari 13 business school di Eropa, dari sekolah yang jumlah participantnya besar kayak London business school, IESE, HEC sampe kategori business school kecil kayak KOC (turki…hehe to be honest aku juga gak tahu kenapa Turki juga dianggap "Eropa"). Kalo diilustrasikan bener2 kayak Olimpiade cuma pesertanya MBA participant di berbagai business school di Eropa.

Event MBA Tournament dibuka oleh Nawal el Moutawakel, perempuan hebat ini adalah perempuan muslim maroko pertama yang memperoleh medali emas 400 m hurdles di Olimpiade los angeles 1984. Beliau menyampaikan bagaimana olahraga baik dari sisi sportivitas maupun sisi pengembangan kepribadian, dapat merubah nasib suatu komunitas ataupun bangsa. Karena dalam Olahraga tidak ada sistem nilai yang berlaku, tidak ada pertentangan agama, idealisme dll. Kemenangan Nawal tsb telah menjadi inspirasi bagi negara Maroko bahwa mereka bisa tampil berprestasi di tataran internasional, dan juga bagaimana perempuan muslim bisa maju & mengembangkan prestasinya di dunia internasional.

5 menit berikutnya diisi sama petinju yang menceritakan bagaimana sasana tinju bisa membuat komunitas yang lebih baik di kantong2 slum area. Energi yang dihabiskan untuk perang antar geng, disalurkan lewat tinju, sehingga masyarakat merasa sedikit lebih aman & punya harapan di masa depan.

10 menit berikutnya diisi sama world champion rollerskater yang gak pernah mendapat pendidikan formal, tapi bener2 bisa belajar kehidupan dari olahraga. Ketekunan, pantang menyerah, spirit-antiusiasme bener2 hal yang udah terinternalisasi. Chris (kalo gak salah itu namanya) mengalami kecelakan sehingga kakinya tidak bisa "kuat" seperti sebelumnya sehingga dia gak bisa ikut kompetisi rollerblading lagi. Tapi hikmahnya, dia jadi businessman yang punya bisnis dengan turnover 3 juta euro setelah dia mendapat ide di rumah sakit untuk buat produk rollerblade dengan memakai namanya. Dia cerita gimana dia dapet idenya di rumah sakit, terus nekat pergi ke buyernya Carrefour (Perancis), ditantang untuk mempresentasikan idenya dalam 20 jam, dan dia bilang pengalamannya berjuang untuk berprestasi di olahraga membuat dia juga tahan banting di dunia bisnis. Ditambah lagi dia nekat dengan gak mau pake kursi roda atau tiang penyangga ketika harus presentasi ke Buyernya Carrefour, karena dia tahu gimana sukses menjual produk rollerblade kalo dianya sendiri terlihat “injured”. Yup, Chris ngajarin gimana Passion, enthusiasm, gak pantang menyerah dan terus memperbaiki diri adalah kunci dari sukses dalam kehidupan.

Melihat 3 contoh di atas, aku jadi bener2 "ngeh" sekarang kenapa di US banyak beasiswa olahraga untuk anak SMA yang ingin melanjutkan kuliah, karena mereka mengerti anak2 yang terbiasa berkompetisi olah raga punya semangat juang yang tinggi yang akan sukses di bidang manapun yang mereka pilih. Teamwork, belajar menerima kekalahan dan terus maju untuk berprestasi lebih baik di team basket/football/atletik bener2 menjadi kunci mereka untuk sukses di kemudian hari.

Dulu waktu SD pernah ada soal ujian apa arti mensana in corpore sano, aku jawab “dalam konteks menerjemahkan” kalo artinya di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat… setelah hampir 18 tahun… aku baru mengerti “dalam konteks terinternalisasi” apa arti dari mensana in corpore sano tsb.

*stillinspiredbyamazingpeoplewhomImetin16thMBATournamentParis*

Kebangkitan Nasional

Monday, May 22nd, 2006

Walopun hari kebangkitan nasional baru aja lewat… tapi yah namanya jurnal… tetep aja ditulis…. wong jurnal isinya kurang lebih sama kayak diary yak :D

Tanggal 20 Mei yang lalu, aku ikutan acara di KBRI mengenai nasionalisme dan peranan pemuda. Diskusi yang di sponsorin oleh ISTECS & KBRI ini bener2 bagus (terstruktur, informatif & menambah wawasan), pembicaranya dari staf ahli menpora, atase politik KBRI, pejabat ISTECS & pak Haq (kandidat PhD dari Utrecht yang berbagai artikelnya udah dimuat di jurnal/surat kabar internasional).

Saat presentasi dari pak Budi Setiawan (menpora), suasana bener2 jadi menarik karena ada fakta munculnya keinginan banyaknya orang yang kangen untuk ikutan P4 lagi, berdiskusi mengenai wawasan kebangsaan & bagaimana kita sebagai sebuah bangsa. Karena yang ada kayak gini digantinya dengan berita politik yang males banget bacanya… trus ditambah lagi kita gak punya agenda yang jelas mau dibawa kemana bangsa Indonesia ke depan.. hal ini beda banget dengan malaysia yang punya visi 2020, dan telah jauh meninggalkan Indonesia.

Presentasi dari pak Haq juga menarik sekali… bagaimana secara logis dia merunutkan kalo kita mau survive dalam globalisasi, peran keluarga sebagai unit terkecil dari masyarakat sangatlah besar. Karena dari keluarga yang punya kesadaran & visi kedepan… akan memulai bergeraknya Indonesia sebagai sebuah bangsa menuju bangsa yang bermartabat & sejahtera. Hmm… jadi keingetan dulu cerita di milis… betapa seseorang menyesal karena gak bisa merubah dunia menjadi lebih baik & moral of storynya dia gagal karena gak mau merubah dirinya & keluarganya untuk menjadi lebih baik.

Setelah itu pak Djauhari, orang nomor satu KBRI di Belanda.. juga share bagaimana suka dukanya dalam negosiasi perjanjian kerjasama internasional, banyak banget hal2 yang aku gak tahu… jadi tahu sesudahnya, kayak kasus2 apa aja yang pernah terjadi dsb, yang nunjukin posisi daya tawar Indonesia di dunia perjanjian/perdagangan internasional yang masih lemah…

ALLAH mengikuti persangkaan hambaNya… Although it seems quite impossible.. tapi aku yakin kalo bangsa Indonesia akan bangkit sebelum aku meninggal nanti, dan mudah2an aku & keluargaku bisa jadi orang yang bisa kontribusi konkrit dalam kebangkitan Indonesia … amiin… :D

*lagisantaidischiedamsevest38Ekarenaujianudahkelar*

She’s a muslim… do not touch her…

Sunday, May 21st, 2006

Hari ini ber-15 (Aku, Marcel, Sheryl, Fang-Chi, Irene, Molly, Krista, Markus, Lin-Brunch_kafe_rotterdam3 Zhu, Elvis, Anu, Siska, Masato & Mathias)  brunch di Kafe Rotterdam yang terletak depan kanal dengan pemandangan Erasmus Bridge. Quite expensive but really happy… litterally.

Mathias (yang mau berangkat exchange ke Wharton-MBA pas semester 4 nanti) bilang ke aku, Hey Anna, I don’t have any pictures with you, take a photo together please. Dan dengan gaya "eropa"nya dia coba untuk peluk aku dari belakang… tiba2 Fang-Chi (Taiwan) tereak… Hey Mathias, Anna is a muslim, you can not touch her!!! Mathias sempet kelabakan… terus akhirnya kita foto bareng dalam posisi "normal" tanpa bersentuhan… terus suasana mulai mencair karena yang lain godain aku kalo mereka akan kumpulin foto aku sama cowok2 RSM & send it to my husband :D

Alhamdulillah, effort aku untuk ngejelasin muslim life ke orang non muslim mulai berbuah (walopun belum terlalu banyak), Mathias yang sempet kaget jadi juga bertanya2 mengenai muslim life (intinya sih dia minta maaf kalo mungkin agak ofensif, terus aku bilang understandable kok..dan sekarang elo udah tahu lah value yang gue anut).

Brunch_kafe_rotterdam1 Yes, I’m finding great friends here… great friend who could developing each other, have fun together and also respects personal value & cultures

Yah, begitulah di RSM… when many different cultures met… cultural understanding happen… and because of that we’re turning to become better person personally & professionally.

Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan? (QS : Ar-Rahman)

*Mathias itu yang jongkok di depan sambil buka tangan bentuk V*

stereotyping…

Saturday, May 20th, 2006

Setelah mulai "menghilangkan batas psikologis & kultural" dan mencoba untuk lebih bisa menerima perbedaan nilai… akhirnya aku udah enjoy temenan (dalam arti bisa share mendalam.. bukan temenan just say hi & how are you) dengan _457 temen2 di RSM. Gee… selama +/- 7 bulan ini eke kemana aja yak… :D, Hehe sebenernya sih akunya gak kemana2… mungkin akunya aja yang terlalu tertutup karena stress duluan melihat kultur dimana minum2 bir adalah sebuah cara untuk sosialisasi, rangkul-cium-peluk adalah cara mengekspresikan "sayang", being drunk will make you more accepted in community.

Aku sadar kalo aku ngalamin Culture shock yang parah banget, dan secara gak sadar itu buat aku jadi sangat tertutup. Yah bayangin aja dulu pergaulan aku lebih banyak sama anak rohis (ikhwan-akhwat)… yang kalo rapat dihijab, gak ada tatapan mata ke lawan jenis, gak ada sapa menyapa yang gak penting dengan lawan jenis (hehehe kalo yang ini eke suka ngelanggar… karena beberapa temen ikhwan emang enak buat jadi tempat curhat :D…. terutama yang sekarang jadi suamiku), plus karakter kehidupan idealis a la ikhwah lainnya. Tapi aku sama sekali gak menyesal, enjoy & aku bangga bisa jadi bagian dari ikhwah (dengan segala perjuangannya untuk menciptakan masyarakat yang lebih baik di kemudian hari)… cuma aku juga sadar… kultur aku yang menurut temen2 di sini extremely conservative… buat aku jadi agak "lambat" untuk getting in dan memperoleh pelajaran kehidupan dari mereka.

Kembali ke stereotyping…. aku belajar bahwa stereotyping … men-generalisasikan kepribadian seseorang berdasarkan dari suku bangsa, gender, agama (atau atheist) adalah the worst thing to do in your life. Walaupun emang mungkin ada kesamaan karakter dalam suku bangsa/agama/gender, tapi tiap orang itu unik dan punya value yang gak disangka2. Yup, kita bisa belajar dari kehidupan orang lain.. yang bisa jadi pas awalnya kita gak nyangka bisa belajar dari mereka.

Sebagai contoh, Mathias (hmm… kayaknya dulu aku pernah buat postingan mengenai mathias deh) si young bright german ini… sama sekali gak pernah nyentuh bir… dan menganggap minum bir/liquor lainnya sebagai sebuah kebodohan (padahal kultur orang jerman untuk minum bir sangat kuat); Ying - the most lovely chinese lady that i’ve ever met (berlawanan banget dengan persepsi negatif terhadap tipikal orang Tionghoa).. satu2nya participant perempuan yang harus menjalankan hidup multiperan sebagai istri dan ibu disini (suaminya expatriate di perusahaan minyak di Belanda) bener2 ngajarin aku gimana aku harus struggle untuk ngadepin kehidupan yang seimbang (worklife balance) di kemudian hari; Anu - India generasi ketiga warganegara UK, adalah top performer in class (dia ditawarin professor Pitt untuk ambil PhD!!!) ngajarin aku bagaimana stick dengan apa yang elo yakinin (dia Hindu) dan bagaimana tetep open minded untuk tetap bisa maju ke depan; Elizabeth-Anne, anak kaya yang humble (bapaknya dokter di US- yang bisa membawa keluarganya liburan ke tempat2 eksotis di seluruh dunia tiap 6 bulan… dan travel bulak-balik amsterdam-US kayak pulang-balik jakarta-bogor dengan KRL), dari EA aku belajar bahwa being fed by silverspoon bukan berarti elo jadi manja, EA mendapat predikat summa cum laude waktu di undergraduate studies-nya dan bener2 kerja keras dalam menjalankan program MBA ini dan jadi salah satu top performer in class selain Anu. Selain itu EA juga sangat friendly dan gak pilih2 dalam temenan ; Rudy, anak India yang selama semester 3 ini paling banyak ngabisin waktu sama aku (kita sklompok) P1060830_1 adalah komunikator terbaik yang pernah aku temuin, Rudy bisa masuk ke segala kalangan di RSM, dari orang2 Eropa, US, India (ternyata orang India pun punya berbagai karakteristik pada tiap2 suku & sifat individu), Taiwan, Chinese dan aku yang mungkin menurut sebagian temen2 di sini extremely conservative… dan Rudy bener2 bisa memanfaatkan keluwesannya dalam bergaul untuk mendevelop dirinya juga & networking untuk kemudian hari.

Hmm…. itu baru segelintir dari temen2 di RSM yang akhirnya aku bisa "masuk" dan ambil pelajaran dengan berteman baik dengan mereka. Aku sadar ternyata mereka juga melakukan hal yang sama dengan aku…. Mula2 stereotyping aku sebagai extremely conservative dengan agama yang disamakan dengan teroris, tapi ternyata mereka enjoy temenan sama aku (ini menurut feedback mereka  lho)… David (temen sklompok aku semester ini) bilang… I thought a muslim person is someone who are really conservative.. not nice to be hang out with… but I found you are different… you are the coolest muslim that I ever know .. I enjoy working together & hang around with you (to be honest aku sempet GR walopun akhirnya istighfar.. karena GR-an bisa membahayakan kesehatan jiwa :D). Terus kemarin pas chinese dinner buffet di rumah Ying di den haag, beberapa temen cukup kaget (dalam arti positif) tahu kalo aku sempet belajar piano & masih bisa memainkan lagu sederhana (nostalgy-richard clayderman)… piano makin bener2 meruntuhkan barrier aku & temen2 untuk mengenal deket satu sama lain….

P1060829 Terkadang suka terbersit, aku agak kecewa karena why It take so long for me to get in & comfort with my dear colleague in MBA 07, tapi memang itu cara pembelajaran aku yang efektif kali ya…. "dijedotin" dulu dengan kenyataan baru bisa mengerti makna dibalik sesuatu…. (gee what a learning… always learning in a really hard way :p)…. Then, tryin’ to be more positive… At least I’m learning… masih lebih baik daripada sama sekali gak belajar dari kehidupan di RSM ini :D

Sebagai penutup dari "sharing" ini, yeah.. I’m really lucky:D, begitu banyak berkah yang ALLAH kasih ke aku… aku sekarang jadi makin mengerti bagaimana harus bergaul & bersikap dengan orang2 dari berbagai kultur, latar belakang & motif bergaul. ALLAH emang sayang sama aku, gak pernah berhenti kasih pelajaran untuk hambaNya… agar menjadi orang yang lebih baik di kemudian hari.

*kecapeankarenatadimalampulangjam00.15habischineesedinnerbuffetdirumahYing*

Jilbab…

Tuesday, May 16th, 2006

Terkadang aku suka tersenyum simpul, kalo denger ada temen (baik perempuan atau laki2) yang bilang kalo jilbab itu menutup kesempatan dalam pengembangan diri dan juga membuat hidup menjadi sedikit lebih sulit (baca : jadi serba salah karena Jilbab).

Kenapa tersenyum simpul, karena yang aku temuin justru sebaliknya. Pas jaman SMA aku gak pernah diganggu sama orang2 preman yang suka nongkrong di jalan (paling2 mereka bilang : assalamualaikum bu haji), terus sering "diselamatkan" ketika ke restoran yang ternyata gak halal (pengalaman terakhir waktu greek party di restoran Yunani deket beurs seminggu yang lalu… pelayannya membuat hidangan khusus buat aku tanpa aku minta, dia buat vegetable moussaka khusus buat aku yang enak banget.. karena tahu dari jilbabku kalo aku muslim).

Terus dengan Jilbab, aku juga bisa dapet kesempatan pergi ke luar negeri dengan gratis melalui Australian-Indonesian young muslim leader exchange program tahun 2003 lalu, dan not to mention… kesempatan masuk program MBA RSM-Erasmus University… essay admission aku untuk masuk RSM mengutip masalah jilbab dan dinamika hidup aku dengan jilbab…. yang (kayaknya) membuat profil aku unik & punya added value dibanding kandidat lain, walopun skor GMAT-ku gak tinggi2 amet.

Terus hari ini baru aja terima foto2 dari Sarah Hawkins, director JWT belanda (JWT dipake RSM sebagai pihak yang akan eksekusi brosur & marketing sekolah/program). Foto2 aku (dengan jilbab tentunya) mendominasi kandidat foto2 untuk brosur RSM. Yup, JWT & RSM menganggap aku & jilbabku menawarkan diversity, yang menjadi brand value dari RSM. Mungkin agak Ironis ya? Ada temen Indonesia (muslim) yang skeptis dengan jilbabku, sebaliknya pihak sekolah/RSM menganggap jilbabku sesuatu yang unik… yang bisa bantu RSM memasarkan sekolah MBA yang menawarkan diversity :p

Terus hari ini (juga) aku & kelompokku presentasi tugas advance marketing class, mengangkat kasus sunsilk lime (clean& fresh) di Malaysia*), yang memposisikan sebagai sampoo untuk orang berjilbab. Profesor & temen2 sekelasku menganggap kalo kasus tersebut sangat menarik dari segi marketing - bagaimana sunsilk sebagai global brand.. masuk ke pasar lokal yang punya karakter & kebutuhan khusus (mereka gak pernah lihat komunikasi pemasaran shampoo untuk orang berjilbab sebelumnya).

Alhamdulillah sampe saat ini aku masih setia sama jilbabku.. ALLAH udah nunjukin aku bahwa dengan pake jilbab rejekiku gak "ketutup", bahkan justru "terbuka lebar2"…

*lagikecapeanfluplusbatuk2abisbegadangkerjaintugas*

Schiedamse Vest 38 E, Rotterdam 3011 BA

*)Sunsilk clean & fresh masuk ke pasar Malaysia terlebih dahulu sebelum masuk ke pasar Indonesia

halal…

Tuesday, May 9th, 2006

Alhamdulillah, aku baru ngeh kalo setelah hampir 8 bulan di belanda ini aku makin lancar menjelaskan hal2 detail mengenai muslim way of life… yang mana makanan halal adalah salah satunya.

Selama 8 bulan ini, aku selalu usaha untuk jaga makanan aku agar yang dimakan bener2 halal…. jadi pilihannya kalo gak seafood ya makanan vegetarian… karena kalo mau makan ayam… gak merasa yakin kalo itu ayam disembelih dengan ketentuan yang mengkategorikan ayam itu menjadi halal.

Awal2 di kampus… temen2 ngirain aku have somewhat level of vegetarian addicted… Karena ngeliat aku selalu makan kalo enggak makanan vegetarian ya seafood. Aku cuma cengar-cengir aja kalo ada temen yang nanya aku "are you vegetarian?"…. trus paling2 aku jawab yes, somewhat level of vegetarian (karena bingung ngejelasinnya). "So, you don’t eat meat at all?"… aku jawab "not really… I still eat meat… tapi aku cuma makan daging yang di-special treatment sebelum di slaughtered"…. dan terkadang dia jadi bingung sendiri :D

Tapi kemarin sedikit berubah, aku makan vegetarian food seperti biasa. Simon (belanda caucasoid) tanya, "how does it taste?"… aku jawab "it taste good, I like it. Why?"…. "so you don’t eat meat?"… aku jawabnya, "I eat a special kind of meat…do you know kosher food.. food for jewish people? Muslim has similar kind of food.. and called them as halal food". Terus si Simon bilang… "Halal food? Falafel & Kebab?" (Falafel-makanan turki dari chickpeas dan Kebab cukup populer di kalangan orang belanda asli).. is more than falafel & Kebab… It’s the way of the meat had been treated.

Terus si Simon cerita kalo dia pernah ke penjagalan dan menemukan mereka melakukan penjagalan ayam cepet banget… otomatis. Terus dia bilang butcher2 tersebut punya masalah kalo mau ekspor ke negara muslim..negara2 tersebut required the muslim butcher way….kalo dilakukan dengan sistem tsb jadi lama banget… karena itu ayam harus "dibarisin" baca doa.. dijagal… masuk ke ayam berikutnya… baca doa.. dijagal… it takes so long….

Ya aku jawab aja… halal concept is a belief system… elo gak bisa merubah belief system seseorang dengan bilang belief system elo gak efisien… instead of getting your business prospect im muslim countries, what you’ll get is a blunder for you business sustainability…orang2 (muslim) bisa protes berat … Jadi kalo elo emang mau ekspansi ke pasar mereka (negara2 muslim) ya elo harus ngelakuin itu (baca : sistem penjagalan islam)…. kalo enggak ya gak usah aja…

hihihi… terkesan galak banget ya…. tapi alhamdulillah its work… si Simon manggut2 jadi ngerti kenapa dan seperti apa makanan halal. terus Sunil (India) yang semeja sama kita tersenyum "simpul" ngeliat simon yang manggut2 :D

Yah.. emang terkadang umat Islam punya problem dalam mengkomunikasikan their way of life… karena untuk kultur tertentu terkadang menganggap kebiasaan yang gak sama dengan kultur mereka too sophisticated… Tapi bukan berarti kita gak bisa mengkomunikasikannya kan… :D

#masihdalampembelajaranuntukmenjelaskanislamyangramahdanmenyenangkankeorang2nonislam#

Schiedamse Vest 38E, 3011 BA, Rotterdam

aktor vs profesor

Monday, May 8th, 2006

Hari ini adalah hari pertama kuliah advance marketing. Profesornya, Prof.Leyland Pitt adalah faculty member di Harvard Business School (HBS). Saat beliau memperkenalkan diri, Aku tercengang ketika dia bilang … "my dean in HBS doesn’t care how good I am in teaching… the most important thing is how many articles from my research is submitted in good/ respected journals… The logic behind is professor is not the same with an actor… we teach from what we’ve discovered through our researches/industry consulting… if we teach from other people materials and try to look good & convincing.. then we’re becoming an actor instead of becoming professor" Ngedenger dia ngomong kayak gitu… wow… ngerasa "ditampar" banget, karena jadi keingetan pendidikan tinggi di Indonesia pada umumnya dan pendidikan bisnis & manajemen di Indonesia (yang dilakukan universitas) pada khususnya… yang to some extent bener2 didominasi sama aktor/aktris yang cukup sering "suka gak bagus aktingnya" dan bahkan ada yang gak bisa akting sama sekali :’( …… what a pity

Terus yang lebih sebelnya lagi… ketika atasan aku di kampus mengeluarkan pernyataan dan ajakan yang kurang lebih esensinya sama dengan professor Pitt… bahwa riset adalah tulang punggung kegiatan akademik… pernyataan beliau banyak "dilecehkan" oleh kolega pengajar lainnya… komentar mereka.. "ngapain sih repot2, gak usah deh gagah2an deh pake riset segala"…. dan yang paling buat aku sebel… orang yang bilang gak usah gagah2an pake riset segala… adalah salah satu pengajar yang meng-klaim dirinya adalah ahli manajemen di Indonesia kalau menulis kolom di majalah atau seminar manajemen populer (baca : doi banyak melakukan praktek marketing dirinya sendiri & make good deal with media untuk mengangkat dirinya sebagai ahli manajemen Indonesia). Kalo kenyataan para staf pengajar kayak gini…gimana pendidikan tinggi manajemen Indonesia bisa maju kayak Harvard yak…

Ngebahas "si ahli manajemen"… jadi keingetan lagi sama omongannya Peter Cuneo (mantan CEO Marvel Inc. yang bawa Marvel dari kebangkrutan menjadi untung lagi)… popularity through media will kill you… karena akan buat elo merasa jadi orang yang super, kondisi tsb akan buat elo di kemudian hari menjadi orang yang sombong & lambat laun tinggal tunggu kejatuhannya. FYI, banyak banget publisher yang kejer2 Peter Cuneo untuk buat biografinya beliau & bagaimana beliau mengangkat Marvel dari kebangkrutan… tapi gak ada satupun dari publisher tsb yang sukses… karena Peter Cuneo sangat memegang kuat prinsipnya tersebut. Sementara si "ahli manajemen" justru kejer2 media/publisher untuk buat acara/kolom yang tujuannya adalah melambungkan namanya sendiri….

Hmm… jadi melebar gini yak… yang jelas dalam proyeksi masa depan aku sebagai birokrat kampus… aku udah milih posisi yang jelas… aku akan terus berusaha untuk terus berada alirannya Peter Cuneo (rendah hati tapi konkrit dan terhormat), bukan alirannya si "ahli manajemen"….. yang punya Public Relation yang bagus tapi belakangan tercium oleh orang2 industri kalau kompetensi beliau sebenernya gak bagus.

Becoming popular & liked by everyone is somewhat important, but becoming person who could do the right thing and inspire people to do the right thing is much much more important….

Terima kasih Prof. Pitt, karena melalui tangan anda ALLAH SWT memberikan lagi pembelajaran mengenai kehidupan (FYI, prof. Pitt bener2 enak ngajarnya… kontennya "berisi" terus dikemas dengan cara mengajarnya menarik)

#ditulisdenganpenuhharapuntukbisamenjadi"petercuneo"dimasadepan# - Schiedamse Vest 38 E, 3011 BA, Rotterdam

yang naik dan yang turun….

Saturday, May 6th, 2006

Ketika jenuh seperti ini biasanya ngeliat profil temen2ku di friendster (ngeliatin mereka lagi ngapain aja sekarang) menjadi suatu pilihan. Aku bisa melihat perubahan pola pikir/idealisme, kemajuan & kemunduran, pernikahan dan kelahiran temen2 aku, baik yang masih keep in touch atau yang old friend yang masih berada di database ingetan…

Ada perubahan yang membuat aku kecewa seperti menemukan temen aku yang menginspirasi aku memakai busana takwa ternyata membuka jilbabnya dan berpose seksi dengan memakai baju spaghetti strap, atau temenku yang bapaknya aku kenal baik karena kebaikan & kerendah-hatiannya (yang diakui masyarakat sekitarnya) ternyata jadi sosok party animal yang hidupnya fokus berpindah ke satu party ke party yang lain. Terus ada yang dulunya pemalu sekarang jadi gaul & jadi penyanyi kafe yang seksi (to some extent aku juga ngeliat ada perubahan yang positif), kemudian ada juga temen baik someone that I look up to.. ternyata stagnan dan gak mau keluar dari comfort zone-nya dan jadi seperti katak dalam tempurung sehingga pandangannya menjadi sempit… padahal dari beliaulah aku belajar untuk open minded

Aku pikir sih itu hak mereka untuk menentukan hidupnya masing2, mau dibawa kemana hidup mereka. Karena aku yakin kita udah punya kedewasaan yang bisa menjadi acuan menentukan mana yang baik dan mana yang gak baik. Tapi jujur aja ada rasa sedih campur kekecewaan ketika melihat perubahan yang terjadi pada temen2 aku yang menurut "mata" aku adalah kemunduran… tapi yah mau gimana lagi… aku merasa udah tidak bisa menjangkau mereka… merasa jadi outsider dari kehidupan mereka sekarang :’(

SEBALIKNYA ketika aku menemukan kemajuan dari temen2 aku aku jadi seneng dan ikutan bangga. Ada 2 temen cowok aku di SMA yang kalo aku perhatiin sukanya  main bola terus di sekolah atau menyelesaikan soal2 fisika pak Yani (yang susah itu) ternyata makin dewasa dan matang. Mereka jadi orang yang bisa speak their mind tanpa harus merasa tidak diterima di lingkungan dan mengukir prestasi plus terus berkontribusi terhadap masyarakat. Terus beberapa temen deket aku yang tadinya aku pikir biasa2 aja… telah menjelma menjadi sosok yang aku bisa tarik pelajaran dari perjalanan hidupnya. Mereka tahu apa yang mereka mau dalam hidup ini, secara sadar memilih jalan hidupnya dan siap menerima konsekuensi dari pilihan hidupnya itu…

Kalo udah begini… terkadang aku bertanya2 sendiri, aku termasuk yang mana ya? Yang naik atau yang turun?

#Ditengah2 kejenuhan yang datang lagi, Schiedamse Vest 38E, 3011 BA Rotterdam#

Life is Waiting…..

Thursday, May 4th, 2006

Tiba2 aku keingetan dengan film "The Terminal" yang dibintangi sama Tom Hanks & Chaterine Zetta-Jones. Film ini menceritakan gimana nasib Tom Hanks yang negaranya mengalami kudeta (mengakibatkan tidak jelasnya kedaulatan negara) ketika dia berada di atas pesawat menuju New York. Begitu sampe di bandara JFK, dia kebingungan ketika paspornya gak berlaku & kebingungan yang sama juga dialami oleh para petugas bandara karena si Tom Hanks ini mendadak jadi nationless, dan belum pernah ada kasus kayak begitu sebelumnya… mendadak nationless di atas udara, dan ketidakjelasan siapa yang bertanggungjawab karena bukan salah si Tom Hanks dia jadi Nationless

Film ini menggambarkan secara detail, bagaimana si Tom Hanks ini harus menjalankan hidup sehari2nya di bandara, dari bagaimana dia cari tempat tinggal yang nyaman, bulak-balik terus ke kantor imigrasi (dengan tetap optimis si pejabat imigrasi akan memberi cap hijau… walo udah berkali2 dapet cap merah), duit abis (diakali dengan ngumpulin recehan dari masukin kereta dorong ke mesinnya), menolong orang sebangsa dengan dia (negara asia tengah) ditahan petugas imigrasi yang bawa obat  untuk obat orang tuanya (di US UU masalah obat untuk ketat banget sementara obat buat hewan ternak gak ketat… disini Tom Hanks men-translate omongan orang tersebut bahwa obat tersebut untuk kambingnya… dan dia jadi "legenda" di bandara, membuat semua orang yang ada di bandara respek sama dia)

Film ini ngajarin aku bagaimana kita harus ngejalanin terus hidup… jangan ada kata berhenti & mengeluh. Selain itu juga menekankan kalo kita harus "treasure" friendship yang akan buat hidup kita jadi lebih menyenangkan & to some extent.. lebih mudah. Terkadang, film emang sarana yang oke banget untuk belajar kehidupan yak :p

Life is waiting now… aku harus hadepin itu… jalanin sebaik2nya… dan mengutip salah satu judul buku terkenal…. badai pasti berlalu dan akan diikuti dengan hari yang cerah….

Go to fullsize image

Adaptability toward changes…

Wednesday, May 3rd, 2006

Udah seminggu ini selalu sholat subuh dengan timing yang nyaris deket dengan terbitnya matahari…  parah… masih belum bisa adaptasi dengan perubahan panjang matahari di Eropa ini.

Pas dateng di londo ini lagi musim gugur, subuh jam 5.30 dan maghrib jam 18.45 .. kurang lebih agak mirip dengan kondisi Indonesia… Terus waktunya semakin singkat saat winter. Subuh sekitar jam 6.30 dan maghrib sekitar jam 16.00 (waktu yang tepat buat bayar puasa… :p)… sementara sekarang begitu masuk musim semi, subuh jam 4.30 dan maghrib jam 21.00  (Isya jam 23.30)

Suka kesel sama diri sendiri sih yang gak bisa bangun lebih pagi lagi… adaptasinya agak lambat terhadap perubahan panjang matahari ini. Tapi as an optimist person, aku coba lihat kalo ini mungkin pelajaran dari ALLAH supaya aku gak jadi orang Indonesia kebanyakan yang punya resistent to change yang tinggi banget… maksudnya senang berada di comfort zone alias senang dengan yang pasti2 aja. Padahal keberanian untuk berubah yang berbuah pada inovasi adalah kunci utama menuju prestasi yang lebih baik di kemudian hari.

Hmm… ALLAH telah ngasih aku exercise bagaimana kita harus punya adaptabilitas yang tinggi terhadap perubahan, melalui bagaimana kita memenuhi kewajiban sholat kita dengan waktu sholat yang berubah drastis sepanjang tahun dari musim ke musim. I’m so lucky to have these kind of experience…

Schiedamse Vest 38E, 3011 BA, Rotterdam