Jilbab…

Terkadang aku suka tersenyum simpul, kalo denger ada temen (baik perempuan atau laki2) yang bilang kalo jilbab itu menutup kesempatan dalam pengembangan diri dan juga membuat hidup menjadi sedikit lebih sulit (baca : jadi serba salah karena Jilbab).

Kenapa tersenyum simpul, karena yang aku temuin justru sebaliknya. Pas jaman SMA aku gak pernah diganggu sama orang2 preman yang suka nongkrong di jalan (paling2 mereka bilang : assalamualaikum bu haji), terus sering "diselamatkan" ketika ke restoran yang ternyata gak halal (pengalaman terakhir waktu greek party di restoran Yunani deket beurs seminggu yang lalu… pelayannya membuat hidangan khusus buat aku tanpa aku minta, dia buat vegetable moussaka khusus buat aku yang enak banget.. karena tahu dari jilbabku kalo aku muslim).

Terus dengan Jilbab, aku juga bisa dapet kesempatan pergi ke luar negeri dengan gratis melalui Australian-Indonesian young muslim leader exchange program tahun 2003 lalu, dan not to mention… kesempatan masuk program MBA RSM-Erasmus University… essay admission aku untuk masuk RSM mengutip masalah jilbab dan dinamika hidup aku dengan jilbab…. yang (kayaknya) membuat profil aku unik & punya added value dibanding kandidat lain, walopun skor GMAT-ku gak tinggi2 amet.

Terus hari ini baru aja terima foto2 dari Sarah Hawkins, director JWT belanda (JWT dipake RSM sebagai pihak yang akan eksekusi brosur & marketing sekolah/program). Foto2 aku (dengan jilbab tentunya) mendominasi kandidat foto2 untuk brosur RSM. Yup, JWT & RSM menganggap aku & jilbabku menawarkan diversity, yang menjadi brand value dari RSM. Mungkin agak Ironis ya? Ada temen Indonesia (muslim) yang skeptis dengan jilbabku, sebaliknya pihak sekolah/RSM menganggap jilbabku sesuatu yang unik… yang bisa bantu RSM memasarkan sekolah MBA yang menawarkan diversity :p

Terus hari ini (juga) aku & kelompokku presentasi tugas advance marketing class, mengangkat kasus sunsilk lime (clean& fresh) di Malaysia*), yang memposisikan sebagai sampoo untuk orang berjilbab. Profesor & temen2 sekelasku menganggap kalo kasus tersebut sangat menarik dari segi marketing - bagaimana sunsilk sebagai global brand.. masuk ke pasar lokal yang punya karakter & kebutuhan khusus (mereka gak pernah lihat komunikasi pemasaran shampoo untuk orang berjilbab sebelumnya).

Alhamdulillah sampe saat ini aku masih setia sama jilbabku.. ALLAH udah nunjukin aku bahwa dengan pake jilbab rejekiku gak "ketutup", bahkan justru "terbuka lebar2"…

*lagikecapeanfluplusbatuk2abisbegadangkerjaintugas*

Schiedamse Vest 38 E, Rotterdam 3011 BA

*)Sunsilk clean & fresh masuk ke pasar Malaysia terlebih dahulu sebelum masuk ke pasar Indonesia

Leave a Reply