Childhood Memories (part 2)
Waktu kecil dulu… kayaknya yang namanya sakit sering mampir dalam kehidupan aku… Umur 4 tahun aku kena demam berdarah & di opname di RS Harapan Kita… terus demam berdarah tsb juga berulang ketika umur 9 tahun, waktu demam berdarah kedua sukses banget buat panik orang-orang di UGD RS yang sama… soalnya demam tinggi udah 5 hari.. terus mimisan 6 kali dalam sehari plus batuk darah…. mereka konon menganalisa kalo demam berdarahnya udah parah banget.
Selain demam berdarah, thypus & gejala thypus juga beberapa kali mampir… Pernah waktu itu kakakku lagi lomba busana muslim… dan si papa pingin kita pulang setelah selesai, sebenernya aku udah pusing banget tapi mereka bilang nanti aja pulangnya setelah pengumuman pemenang (buset dah… ambisius mode emang udah on dari jaman baheula :D) walhasil pulang2 rasanya aku udah tewas…terus setelah itu pasti ke dokter deh…
Nah, si dokter ini (sebut aja Dokter M) emang udah jadi dokter keluarga besar aku… jadi nenek, alm. kakek, om, tante2, sepupu2 banyak yang berobat ke dia juga. Bayangin aja kalo ni dokter tahu sejarah keluarga elo…dari kehidupan sosial, pribadi, sampe riwayat yang asma… jantung, dsb. Kalo diitung2 berarti udah hampir 20 tahun aku & keluarga selalu konsultasi ke dokter ini… dan gak bisa pindah ke lain hati banget…. pernah ke dokter lain tapi analisanya gak cocok malah tambah parah , kalo ama dokter M ini… dateng… dikasih resep… 3 hari rasanya badan udah segar kembali
Dokter M ini pekerja keras banget… kalau dari ceritanya, dia itu datang dari keluarga susah di daerah, yang ingin menjadi dokter supaya bisa memberikan pelayanan kesehatan terjangkau… sekaligus menaikkan status sosial-ekonomi keluarganya dan memberikan kesejahteraan bagi keluarga kecilnya… jadi gak heran kalau pagi2 dokter ini udah praktek di rumahnya daerah setiabudi (7-9) terus ke RS (10 - 13) terus pindah ke klinik/RS dokter lain (15-17) dan praktek di kliniknya sendiri di pamulang ketika malam hari (19-24)…. Dia ngejalanin model kayak gini kurang lebih sejak aku SMA kayaknya (sekitar tahun 95-an)….
Terus si dokter M ini punya anak perempuan… kakak kelas setahun di atas aku di SD, SMP & di UI (dia di FT sedangkan aku FE) anaknya cantik (mantan mayorrette drum band SD)… pinter lagi (selalu masuk 3 besar juara kelas)… dan menurut aku she’s the star dari keluarga kecil dokter M ini, karena adek2nya waktu di sekolah gak semenonjol sang kakak yang cantik & pintar ini…
Nah disinilah cerita bermulai…. selain memberikan pendekatan rohani dalam konsultasi…beberapa tahun belakangan ini si dokter suka curhat kalo aku, mama, kakak kalau lagi konsultasi ke beliau… curhat gimana biaya kesehatan makin mahal, harga obat yang selalu naik dalam 3 bulan, dan penghasilan bersih kliniknya dia habis untuk membiayai anak cantiknya itu yang lagi sekolah S2 di jerman (berarti penghasilan dari yang lain2 itu untuk anak2 yang lain, istrinya & hal2 lain lagi, dia gak kedapetan apa2 kayaknya… wong mobilnya dia gak berubah masih corona tahun 85-an itu)… Aku & mama sampe terkagum2 dengan kecintaannya sama keluarganya… yang terlihat dari keinginan untuk memberikan yang terbaik bagi anak-istrinya dengan bekerja benar2 ekstra keras…. (plus juga kemurah-hatiannya karena tetap pada tarif 70 ribu per kedatangan … mengingat dia dokter spesialis penyakit dalam yang termasuk senior… jadi gak heran praktek di klinik pribadinya itu selalu penuh …. bayangin aja… aku pernah baru masuk ruang periksa jam 23.30 malam saking banyaknya orang antri)
Nah yang menyedihkan… ternyata si kakak cantik yang sepertinya menjadi harapan dokter M ini…. bener2 berubah setelah beliau kuliah S2 di Jerman… (aku pantengin prensternya soalnya :D) Yang dulunya santun, sopan, dan gak neko2… sekarang kok sepertinya berubah jadi sosok party animal yang kerjanya pindah dari satu pub ke pub yang lain… belum lagi aku nemuin fotonya di friendster yang lagi kissing sama bule… plus foto2nya dengan bikini, tank top atau tube-tob dengan setting (sepertinya) di diskotik atau di apartemen bule2…
Waduh kemana larinya star of the family? terus aku mendadak nangis teringat bapaknya yang suka curhat kalau dia bekerja ekstra keras untuk membiayai kuliah anaknya di jerman tsb….tapi kok setelah pulang dari Jerman malah begini… dan waktu aku lihat profilenya di prenster tertulis… "school : sudah lupa tuh…."… terus nangisku tambah kenceng lagi ketika inget Dokter M cerita kalo anaknya yang lain belum lulus2 kuliah S1-nya…. padahal umur anaknya tersebut sama sama aku…
Lalu aku share kerisauan aku ini sama mama Is, dan dia bilang.. kalau dari dulu terkenal istrinya dokter M ini tipe ibu2 yang suka party, arisan2 dan jalan2… jadi kemungkinan besar kultur tersebut terwariskan ke anak2nya… bapaknya menjadi sapi perah untuk memberikan gaya hidup yang waaah untuk keluarganya… :’(
Hiks2… ngedenger mama Is ngomong gitu aku tambah nangis… karena dokter ini rasanya udah bagian dari keluargaku sendiri…. aku gak ngebayangin kalo oom aku "dikerjain" oleh anak-istrinya sendiri…. dia capek2 kerja keras… sekeras2nya… sementara anak2nya gak jelas dan (menurut aku) gak tahu diuntung dengan kesempatan yang telah diberikan oleh ayahnya…
Kakak cantik, bukan maksud aku untuk menyinggung kalau kamu menemukan blog ini, aku nulis blog ini karena ayahmu bener2 udah seperti keluarga untuk aku, dan itu membuat kamu seharusnya sudah seperti saudariku sendir bukan? Kesimpulannya sih.. aku cuma mau bilang.. ayahmu udah mulai tua…. sayangi dia… hargailah jerih-payahnya…. jangan sampe nanti datang hari dimana kakak cantik akan menyesal karena telah menyia2kan beliau… keinginan ayahandamu sederhana… dia cuma ingin putra/i-nya jadi orang yang berguna bagi masyarakan, dan juga yang bisa mendoakannya kalau beliau sudah meninggal nanti….
*ditulissambilnangiskarenamengingatobrolan2dengandokterM*