Renungan PKS….

Akhir2 ini Rizky salah seorang adik kelas sering protes mengenai masalah gerakan sistem da’wah tarbiyah di kampus… yang menurut dia gak efisien dan mengalami disorientasi terhadap apa yang diperjuangkan…. (baca : kok semata2 merebut kekuasaan aja gitu)… Hmm baca blognya yang harus mengernyitkan mata karena kata2 kasar banget dalam menyampaikan idenya (sempet bingung juga karena setahu aku dia adalah bagian dari gerakan itu dan telah banyak memperoleh kesempatan yang gak semua kader tarbiyah bisa peroleh)… Eke bener2 butuh ekstra effort dalam mengambil esensi tulisannya dan kemudian jadi bahan untuk renungan….

Dalam buku Profil Kader PKS a.k.a kader da’wah tarbiyah dinyatakan bahwa profil tsb harus memiliki 7 karakteristik esensial. Kokoh & Mandiri; Dinamis & Kreatif; Spesialis & Berwawasan Global; Murabbi Produktif; Ber’amal Jama’i; Pelopor Perubahan; Memiliki Ketokohan Sosial….. Hmm… karakter super banget yang buat aku pribadi perlu kerja sangat keras sekali untuk mewujudkannya.

Tapi seperti masalah klasik orang Indonesia yang bagus di perencanaan tapi gak bagus dalam pelaksanaan…. Hal tersebut mungkin terjadi di gerakan da’wah tarbiyah…. contohnya Pak M, salah satu petinggi DPP PKS… dalam kehidupan sehari2nya menurut subyektifitas aku agak kurang konsisten dengan apa yang udah digariskan…. walopun beliau punya program bagus sekali untuk peningkatan kualitas SDM pemuda Indonesia…. tapi beliau agak kurang open minded… dunia hanya berputar pada partainya.. bisnisnya… dan programnya tersebut… Orang yang selalu berkomentar senang kalo ada pemberitaan bagus mengenai PKS… dan selalu mengutuk plus menjuluki orang tersebut gak tahu apa2 kalo ada pemberitaan miring seputar PKS. Watak yang sama sekali kontradiktif dengan berwawasan global …

Contoh kasus lain, adalah bagaimana managerial style beliau dalam mengelola bisnisnya yang didominasi stick… compare to carrot… yang kayaknya sangat mengungkung orang untuk sulit berkreasi… dan harus menjalankan tugas seperti mesin… Huu… suka sedih dengan kenyataan ini… karena kakak kelas murrabbi tidak resmiku… berada pada lingkungan kerja kayak gitu… jadi gak berkembang… padahal I know he’s damn smart & has high potentials… (hmm.. PR besar nih musti mendorong supaya dia cepet studi lanjut…)

Terus kasus lagi dengan kenyatakan kalo pak M ini sedikit-banyak menentang ide untuk pengembangan SDM kader perempuan….. Karena berpandangan perempuan toh nanti larinya dapur-kasur-sumur aje… Maak, kemana aja pak… sekarang peran perempuan adalah salah satu indikator dalam penilaian kualitas sebuah negara/bangsa di World Economic Forum, terus kalo bukan para kader2 perempuan yang cerdas (kayak bu Yoyoh Yusroh, bu Nursanita Nasution, bu Sitaresmi Soekanto, dsb) yang punya keyakinan kuat dalam nilai2 keluarga…. siapa yang akan mengcounter isu2 feminisme radikal?

Kembali ke struktur dalam pergerakan tarbiyah, yang rukun pertama adalah Al-fahmu… Mengerti tata cara/fiqh berda’wah… yang tentunya juga berarti harus memahami realitas kondisi dunia sekitar kita… terus diskusi aku terakhir dengan pak M, dia menyayangkan kalo A salah satu adik kelasku yang merupakan angkatan pertama dalam program pengembangan SDMnya tsb, jadi "nyeleneh" dalam memandang perekonomian bangsa… dia menyayangkan (baca: menentang & kesal dengan perbedaan) kenapa gak setuju dengan ekonomi yang lebih berpihak pada kebijakan sains dsb sesuai dengan interest beliau, padahal aku tahu si A yang lagi studi lanjut di Norway ini adik kelasku yang brillian… (gak hanya pinter lhoo) dan menurut aku si A lebih memahami kondisi nyata perekonomian Indonesia daripada si Pak M yang berpikir sistem ekonomi yang ada sekarang harus di stop terus diganti yang baru (duh pak, mungkin kegagalan Nelson Mandela & reformasi ekonomi di Afrika selatan bisa jadi pelajaran sebelum berkomentar ganti sistem ekonomi kayak gitu)

Masalah berganti sistem ekonomi… aku jadi inget Perjanjian Hudaibiyah… yang mana sempat membuat para sahabat kesal dengan Rasulullah atas kelunakan hatinya dalam menghadapi kaum Quraisy, padahal dengan perjanjian Hudaibiyah yang terkesan membuat kaum muslim dalam kondisi yang kalah… membuat perekonomian bergerak lebih cepat (setelah bulak balik mengalami serangan Quraisy) dan pada akhirnya membuat Rasulullah & pendukungnya memperoleh kemenangan nyata setelah mengalami masa pahit 23 tahun…. Intinya sih maksud aku jalani dulu perekonomian yang ada dengan baik… turunkan kemiskinan (yang gak simpel) dan tingkatkan perekonomian (yang juga gak simpel)… lalu ketika itu sudah ada bargaining power akan meningkat sehingga sistem ekonomi syariah yang usury free bisa diterapkan… jangan asal aja bilang ekonomi kapitalis dengan mafia berkeley adalah biang kerok… emang situ bisa menjamin apa kalo ekonom lain yang menjalankan akan jadi lebih baik… (maap agak galak… soalnya suka sebel sama komentar2 asal kayak gini… contohnya kayak Kwik Kian Gie yang selalu mengkritik pemerintah… tapi pas jadi bagian pemerintah gak bisa ngapa2in… dan akhirnya lebih milih jadi oposisi… yeah right…karena lebih mudah gak perlu kerja nyata tapi bebas marah2/kritik kan :D)

Hmmm aku nulis ini bukan berarti aku gak suka PKS…. in fact… bisa jadi aku termasuk pendukung fanatik PKS… karena selama observasi aku selama ini cuma PKS yang keuangan partainya bener2 datang dari kantong2 kadernya sendiri (bukan dari subsidi pemerintah atau titipan pengusaha agar kalo berkuasa bisa diamankan bisnisnya) ditambah aku kenal banyak kader PKS yang punya keikhlasan tinggi dalam melakukan pelayanan sosial kayak community development, mengajar, baksos terprogram, dsb …. terus kenyataan kalo orang2 PKS demonstrasi selalu santun, rapih & bersih… terlihat betapa orang2 ini adalah orang2 yang punya keinginan tulus untuk memperbaiki kondisi sosial … tanpa membuat masalah baru … beda dengan demo partai banteng nanduk yang pasti buat orang2 jakarta ketakutan… :D

Kesimpulannya, aku nulis uneg2 kayak gini karena sebagai simpatisan PKS aku pingin PKS tetap pada idealismenya yang tertuang dalam buku profil kader PKS… dan takut dominasi karakteristik kayak pak M (dan mungkin orang2 yang diprotes Rizky di kampus)… bisa jadi blunder dalam keinginan PKS untuk bisa menjadi solusi dalam menuju perubahan Indonesia menjadi lebih baik di kemudian hari….

*mencobabijakmenanggapitulisanrizkyramadhani*

Leave a Reply