prejudice….
Dalam dua minggu ini setidaknya ada 3 kali makan bareng yang aku lakukan setelah kegiatan perkuliahan selesai. Pertama, makan bareng
sama Fang-Chi & TM. I’m gonna miss them.. for sure. banyak hal2 pribadi banget yang aku share ke mereka, dan begitu juga mereka. Berharap banget kalo mereka bisa segera menemukan pekerjaan ideal mereka sehingga bisa melangsungkan pernikahan yang telah mereka rencanakan. (ket foto dari ka-ki : TM, Fang chi, Me & Hui hung lagi di Gala). Melihat hubungan pertemanan kita yang sangat akrab dan secara TM & Fang Chi adalah orang Chinese-Taiwan (yang konon banyak keturunan tionghoa Indonesia berasal dari Taiwan), aku jadi kepikiran banget kenapa ya hubungan orang keturuan tionghoa Indonesia dengan orang pribumi tidak begitu kuat… padahal kita sama2 manusia bukan.. yang beda hanya warna kulit, bentuk mata, dan kultur yang dibangun… dan ini juga yang membuat aku bertanya2 karena ketika ada acara di KBRI aura kita adalah satu indonesia kerasa banget (elo mo kate jawa, tionghoa, padang, ambon pokoknya indonesia)… hiks…tapi sayangnya hal yang sama kurang berlaku umum di Indonesia yak…
Lanjut ke makan kedua, perpisahan aku sama Julia Bertholdt, my lovely German flatmate. Walopun waktu bareng sama Julia lebih singkat dibanding sama Nat, aku merasa aku lebih nyaman sama Julia. Quite strange karena Nat yang berasal dari Thailand seharusnya lebih mudah untuk berkomunikasi… tapi ternyata sebaliknya. Tipikal orang/cewek eropa yang agresif, menyerang & ketus… kayaknya lebih dekat ke Nat daripada Julia… tapi bukan berarti Nat gak menyenangkan lho… dia menyenangkan… cuma entah kenapa Julia lebih meninggalkan kesan mendalam di hati…. dari dia memberikan coklat countdown untuk menghitung hari kepulangan aku sampe kita sampe buat janji pas lunch terakhir untuk saling kontak & mengunjungi… (btw dia spesial meng-arrange lunch tersebut buat aku …dan itu membuat dia bela2in pulang sehari sebelum natal.. gara2 nunggu aku balik dari nginep di weenapad). Dengan Julia aku bener2 merasa without prejudice friendship could go beyond religion, race, marital status & cultures.. sama sekali gak terpengaruh kampanye anti-terorism & anti-Islam… yang sedang cukup marak di Belanda sini..
Lalu ketiga, pas libur natal ini, aku dikunjungi mantan anak2 AIESEC LC-UI yang lagi berada di belanda dan sekitarnya… duhh mereka… kelihatan banget evolved dari sosok yang aku kenal dulu… Hisma yang sedang ambil MBAnya di Nijenrode tampak jauh lebih matang & punya karir yang cemerlang prior her MBA study. Begitu juga Irwin… sekarang dia sudah menguasai 5 bahasa asing.. padahal dulu terakhir ketemu dia baru mulai bahasa yang ketiga… btw Irwin juga sudah menyelesaikan masternya di Italy mengambil HR, dan sekarang bekerja di Belgia. Terus Ambon, akhirnya menikah dengan Ingmar salah satu TN AIESEC asli Belanda… setelah selesai master International business-nya di Groningen… sekarang Ambon mulai kerja di bank terbesar di Belanda… untuk sustainability development project. Dulu waktu kuliah S1 pernah terbersit, kok anak2 AIESEC ini terkesan hore2 dan gak serius yak… tapi ternyata justru sebaliknya… mereka jadi orang yang mungkin jauh lebih sukses daripada aktivis2 lain yang aku prediksi bakal sukses setelah kuliah S1nya. (keterangan Ki-ka : Me, Hisma, Ingmar, (dian)Ambon, Irwin lagi di kamarnya Hisma, nijenrode universiteit Breukelen-Utrecht— foto diambil Reggie yang ternyata temennya si Mario sahabatku sejak jaman putih-biru dulu)
Hmm…Prejudice… simple action… but "deadly" consequences… mudah2an aku bukan termasuk orang yang tersentuh dengan/oleh si prejudice itu sampe akhir hayat nanti…
January 2nd, 2007 at 4:44 am
hehehe anna
jadi mikir kita dulu emang kayak apa yah hemmm tapi sebenarnya naa.. gw mah dari dulu serius hore2 lagi hehehe…lagian menurut Herodotus tuh…If a man insisted always on being serious, and never allowed himself a bit of fun and relaxation, he would go mad or become unstable without knowing it - intinya hidup mengalir pake tujuan jangan pake target …bisa sutriss 
Terus ada satu lagi yg mungkin a good thing when it comes to serius hore2 ala gw bahwa “It is our responsibilities, not ourselves, that we should take seriously”
begituuuuu …
January 2nd, 2007 at 7:58 pm
waaaahh…Mb’ Dian keren banget…hehehe….
buat anna, selamat kembali lagi yak!! terus, gileeee….irwiiiinn..teman paragitaku duluuuu…sekarang udh ke mana2 gituh..subhanallah deh…salut! salut!