role model baru…
Dua hari lalu adalah hari terakhir aku ketemu Stefano, profesor brand manager aku. Kalo ditanya siapa 5 profesor favoritku selama kuliah di RSM, Stefano pasti masuk di dalamnya. Setidaknya ada 3 alasan kenapa I love Stefano Puntoni :
1. Dia bener2 engaged kalo ngajar, well prepared, knows his student really well (not only backgrounds but also how the best way to approach the students). Efektif dalam 3 jam banyak hal yang bisa dilakukan/didapet (traditional lectures, discussion, case study and or video case) tapi gak berkesan terbebani.
2. I love his teaching materials. Dia punya business case sendiri (mark & spencer, walmart, Laura Ashley, etc) sebagai bahan mengajar, selain case2 dari business school lain tentunya (burberry, cialis, wall’s-unilever, snapple, etc). Buat business case kan berat banget, printilan research & detailnya buanyak. Terus slide sesi mengajar klasikalnya juga bener2 powerful, kelihatan dipersiapkan matang, original & bukan tipe copy paste.
3. Secara personal dia menyenangkan. Dia akrab dengan mahasiswa, dan fun to be with. Seneng aja dia segelintir dari profesor yang mau hang-out sama mahasiswanya, bahkan dalam kasus dia… dia yang traktir mahasiswanya minum2 di pub (hehehe… kalo ke pub eke minumnya cola kok… dan kalo gak spesial kayak gini… eke juga gak ke pub :p). Not to mention dia juga seorang ayah yang baik… inget waktu pertama kali dia mengenalkan diri … dia bilang the most precious thing that he had is… (slide ganti).. gambar anaknya yang lucu banget..
Menurut aku… dia adalah sedikit dari profesor yang menurut aku bener2 perlu contoh. Dia research, dia buat case, dia punya strong network dengan business, dan dia professor yang baik untuk mahasiswanya. Hey… kok semua kategori favorit profesorku mirip yak… Richard Sudek juga kayak gini… Intinya mereka adalah Profesor sebener2nya profesor, mengcreate/mensintesis ilmu, mendiskusikannya dan mengajarkannya. Bukan sekedar aktor yang memakai bahan/research orang lain, dan mencoba mengajarkannya seperti memutar kaset/TV. Hmm emang yah… good profesor itu bukan aktor
Final examination kelasnya Stefano adalah bahas Red Bull. Tak pikir Kratingdaeng yang dulu aku sering minum adalah franchise dari Red Bull. Ternyata justru kebalikannya… Red Bull International yang dimiliki oleh Dietrich Mateschitz (terdaftar dalam forbes billionaire dengan kekayaan pribadi diperkirakan US$ 2 billion) ternyata isinya adalah produk kratingdaeng yang biasa aku minum di indonesia tapi di bungkus dalam kemasan berbeda dan menggunakan carbonated water yang lebih "ramah" dengan lidah orang Eropa. Jangan ditanya si Orang Thailandnya.. diam2 orang Thailand tsb punya 49% dari saham Red bull international.
Kasus ini selain oke (membahas gimana Redbull mengembangkan strategi growth dalam kondisi pasar yang udah mature), juga quite inspiring karena bener2 ngasih contoh kalo produk southeast asia bisa go international dan ngebuktiin orang south east asia –yang sering dijuluki lame/laggard asian compare to northern asia (japan-korea-taiwan)– bisa stand out
hehehe… kalo lihat www.redbull.com dan acara flugtag (kontes terbang) sapa yang nyangka sih kalo redbull dengan packaging soft-drink can adalah peniru dari kratingdaeng
*ngeblogdischiedamsevest38E,sambildengerinlagurindunyakerispatih*