Soonu Kochar - “myopia” - kuba - samuel mulia
Waktu kelas Geopolitic selesai, aku sempet semeja bareng sama madam (former) ambassador Soonu Kochar, dosen geopolitic aku. Beliau yang pernah ditugaskan di berbagai negara (mayoritas Eropa Barat) bilang ke aku & Bjorn yang semeja dengan beliau, kalo udah lewat dari 4 tahun tinggal di LN, keterikatan terhadap bangsa asalnya akan mengendor… karena gak bisa merasakan langsung aura dinamisasi (ekonomi-sosial-politik) yang terjadi di negaranya.
Mungkin itu akhirnya bisa menjawab kenapa untuk pindah kewarganegaraan, seseorang tsb harus tinggal di negara yang dituju minimal 5 tahun tanpa pernah pulang kampung… atau 10 tahun kalo lumayan sering pulang kampung. Dan mungkin juga menjawab kenapa komunitas Indonesia di Belanda yang aku temui… cara pandang thd Indonesia & pemakaian bahasa Indonesianya sangat a la tahun 80-an atau bahkan 70-an.. kayak mengalami "myopia" gitu. Contoh lain lagi…kader tarbiyah disini "kulturnya" persis kayak kader2 tarbiyah jaman 90-an .. yang dedicated & militan banget (dan terjaga dedikasi & militansinya) … beda dengan kader tarbiyah di Indonesia yang menurut subjektifitas aku makin cair dan makin menurun kualitas fikroh & daya dobraknya.
Nah..gara2 gak mau "myopia", akhir2 ini aku jadi makin intensif nelpon ke rumah.. update berbagai info mengenai kondisi indonesia sekarang… biar gak terlalu "culture shock" seperti banyak temen2 STUNED 2005 yang "kaget" pas waktu balik ke Indo karena biasa hidup teratur, tanpa gengsi, dan nyaman… harus kembali merasakan nuansa kesemrawutan khas Indonesia. Contoh sederhana waktu balik summer yang lalu sempet setress dengan angkutan umum bus yang seenaknya suka ngetem (padahal dulunya aku juga cukup sering naik bus)…. dan jadi tambah setres gara2 aku jadi gak tepat waktu (padahal dulunya aku punya kultur it’s normal by being 5-10 minutes late)…. Terus setelah naiknya harga BBM & beras akhir2 ini… suami & Ibundaku udah wanti2 untuk banyak bersyukur… karena banyak banget orang susah sekarang ini… bahkan beberapa kerabat aku termasuk di dalamnya… untuk makan makanan sehari2 aja mereka sampe berhutang dan akhirnya menjual rumah mereka… gitu juga masalah banyak anak yang putus sekolah bahkan yang masih SD sekalipun..
Nyambung ke masalah anak SD putus sekolah, aku jadi keingetan negara Cuba (gara2 seragam SD mereka juga putih-merah). Setelah kunjungan SBY ke Cuba dan banyaknya artikel mengenai Cuba yang ditulis wartawan Indonesia… Aku jadi pingin tahu banyak mengenai Cuba. Dan ternyata gak heran kenapa SBY banyak berharap supaya banyak dilakukan pertukaran atlit & pemuda ke Cuba….karena di negara yang life expectancynya di atas 72 tahun (indonesia cuma 60-an dikit) dan tingkat melek hurufnya (diatas 92% baik cowok maupun cewek), kultur untuk menjadi cerdas sangat kuat tertanam. Instead nonton telenovela, sinetron ataupun acara gosip di TV… orang2 Cuba lebih suka berkumpul bersama… saling membacakan buku & mendiskusikannya… walopun bukunya "sekedar" novel Dan Brown.
Mungkin kita perlu orang2 kayak Samuel Mulia lebih banyak lagi kali ya… Btw, aku termasuk orang yang selalu menunggu2 apa yang akan ditulis Samuel Mulia di kolom Urban di kompas Minggu lho. Tulisannya "lucu2" agak satire tapi cerdas… sering mengetawakan dirinya sendiri karena hidup dalam dunia fashion & sociallite yang terkadang penuh kamuflase… tapi dengan bahasa yang a la socialite gitu… mudah2an aja para socialite itu bisa tercerdaskan dengan artikelnya Samuel Mulia, karena once para sociallite tercerdaskan… mereka yang dianggap having "aspirational type of life" bisa merubah mainstream gaya hidup menonton telenovela/sinetron/gosip show jadi sesuatu yang lebih produktif lagi….
*makinmenyadarikaloapayangakuketahuicumasetetesdarisamudra ilmupengetahuan*
December 17th, 2006 at 1:39 pm
Setuju…, selalu ada yang lebih pintar daripada kita walopun tetep Allah Maha Pintar…
December 17th, 2006 at 6:45 pm
dia homo bukan;p dari dulu soekarno juga deket ama kuba. heran, negara komunis kok bisa lebih islami dari indo ya? filenya mana na, kutungguin nih;D
December 18th, 2006 at 12:36 am
Buat Alin… iya.. emang ALLAH adalah Maha Segalanya yah…jadi inget ayat yang menyebutkan kalau air dari 7 samudra tidak cukup banyak menjadi tinta dalam menuliskan ilmu2 ALLAH
buat Roum, aku ndak tahu Samuel Mulia homo atau bukan.. dan aku gak mau tahu… yang jelas aku suka caranya bertutur di kolom urban, karena banyak pelajaran yang bisa diambil..
Mengenai file.. ternyata lebih dari 10 MB pak.. banyak banget.. belum termasuk yang di reader.. Gimana kalo kita kopi darat ajah?.. Aku akan ada di Jakarta dan sekitarnya minggu kedua Januari ‘07
December 19th, 2006 at 12:01 am
Kurang setuju kalo dibilang di indonesia militansinya lebih cair …mungkin lebih tepat di JAKARTA (atau Jawa bagian Barat lah tepatnya). Coba sekali-kali tinggal di Jawa Timur 6 tahun,mmm…aroma harokah,mantap tenan
December 19th, 2006 at 8:52 am
hehehe… iya… mungkin emang gitu ya Dy…
Tapi di Jawa Timur bapak2nya egaliter kayak disini gak ya Dy? Waktu dauroh tahun 2005 dulu… akhwatnya fokus untuk ikut acara… sementara yang masak bapak2nya… mereka kasih kesempatan untuk akhwat2 supaya bisa fokus dapet materi… karena dalam kegiatan sehari2.. sukar bagi akhwat untuk mendapat “ilmu”
December 20th, 2006 at 2:47 am
hehehehe…egaliter..itu dia tuh…kata yang bisa diperdebatkan
tentang memberikan kesempatan, knapa kita sebagai akhwat musti nunggu diberi? apa berarti selama ini para bapak selalu didahulukan? hehehe
December 20th, 2006 at 3:59 am
hmm.. menurut aku pribadi, akhwat2 disini gak nunggu diberi ya mbak… mereka sadar dengan support masak.. mereka tetap turut serta dalam acara mencari kebaikan.
Tapi bapak2nya mengerti, kalo mereka pintar2 dan harusnya memperoleh kesempatan yang sama dengan ikhwan2 dan bapak2nya juga punya ide menyuruh ikhwan2 masak.. agar tahu betapa beratnya tugas domestik itu…
Aku ngeliat praktik disini sangat balance… saling support, saling dukung, TANPA perlu mengeluarkan/bilang kata2 sindiran kayak “kenapa akhwat hanya bisa menunggu diberi kesempatan ikut materi” dan sejenisnya…atau paling pahit dari sisi ikhwan “payah nih akhwatnya masaknya gak beres.. gak pernah ke dapur soalnya kali”
dan contoh baik ini harus disebarluaskan… karena menurut subjektifitas aku ikhwah disini bener2 praktikin bagaimana Rasulullah juga membantu istrinya urus masalah domestik, dsb… dan istrinya juga memperoleh kesempatan untuk menuntut ilmu