Archive for February, 2007

being bitchy & teguran ….

Monday, February 12th, 2007

I admit I made a mistake…. bulan januari 2007 aku banyak gak bersyukurnya… seolah2 gak percaya sama ALLAH kalo Dia-lah penjamin rezeki seluruh makhluk-Nya. Gak merasa secure dengan karir ke depan…. plus ditambah keinginan yang banyak banget yang disisi lain sadar bahwa semuanya gak bisa dipenuhi… too much whining & complaining intinya….. Payah banget deh….
Nah… semingguan terakhir di awal februari mulai insap…. sadar kembali….kalo ALLAH itu gak akan kasih cobaan yang gak bisa dipikul hambaNya… dan terus menerus belajar untuk bersyukur dan bersabar….
Tapi mungkin yang namanya Anna Amalyah Agus itu gak bisa terinternalisasi 100% dalam belajar mengenai kehidupan kalo gak "dijedotin". Jadilah hari Sabtu tanggal 10 Februari 2007, ALLAH menegurku dengan "manisnya"…. Yups… aku sama 7 temen lain di mobilnya Titi… mengalami kecelakan di tol Cawang…. Mobil terbalik… kaca depan mobil pecah…. bodi mobilnya penyok2 kayak kaleng kerupuk … dan subhanallahnya…. tidak ada satupun yang luka berat (baca : patah2 tulang atau pendarahan banyak, dsb)… aku sendiri hanya terluka diujung jari karena terbeset pecahan kaca…. lain tidak… padahal kalo ngeliat kondisi mobilnya yang parah & jalanan tol cawang yang bersimbah kaca….. orang2 udah mikir yang enggak2….
This is my 1st experience that I am so close with death…. mungkin selama ini ALLAH’s calling me… but I didn’t answer? dan Dia sampe harus memanggilku dengan cara yang cukup heboh & mengagetkan?
Ya ALLAH, Mudah2an kejadian ini bisa bentuk aku jadi orang yang lebih baik lagi di kemudian hari …

*masihgakpercayakaloharisabtuyanglalumengalamipengalaman"menakjubkan"*

this time will take it slow….

Thursday, February 8th, 2007

Selama bulan januari 2007 ini banyak perenungan yang aku lakukan…. dan aku menemukan kalo kata2 mbak novi banyak benernya…..akan ada saatnya kita memutuskan keputusan krusial dalam hidup yang mungkin secara kasat mata "merugikan" pengembangan diri, tapi di sisi lain keputusan itu justru mendatangkan lebih banyak "berkah"

So Here I am, udah memutuskan untuk back to my previous employer…. menguburkan keinginan untuk terjun ke dunia industri (baca : FMCG)… setelah perenungan atas beberapa kejadian yang terjadi. Keinginan punya anak yang besar ditambah aku pingin kejer ridho suami–yang lebih ridho kalo aku kerja di kampus (related dengan workload yang lebih rendah)… cukup banyak berkontribusi dalam pengambilan keputusan tersebut. Kalo boleh jujur… ada sedikit kekecewaan pada saat pengambilan keputusan tsb, ditambah lagi juga memicu konflik kecil antara aku & salah satu significant others aku….. Tapi ya sudahlah…. this is mylife & my nuclear family life…. dan aku Insya ALLAH yakin banget ada hal yang lebih besar yang akan aku peroleh kalo aku memilih back to campus instead of terjun ke industri.

Talking about kerjaan di kampus… kalo gak ada aral melintang… Insya ALLAH sebentar lagi surat keputusan dekan untuk mengangkat aku jadi staf tetap akademik akan keluar. Kalo dianalogikan staf tetap akademik itu kurang lebih adalah dosen tetap, padahal biasanya dari asisten dosen (posisi sebelum aku berangkat ke belanda) akan diangkat jadi dosen tidak tetap dulu sebelum menjadi dosen tetap. Dan banyak kasus di mana orang menunggu sampai lebih dari 5 tahun (bahkan ada yang belasan tahun) untuk menjadi dosen tetap. Jadi kayaknya aku musti banyak2 bersyukur… instead of complaining & whining "how small my salary will be compare to the other choice (go to industry)"… karena aku gak perlu nunggu lama untuk status dosen tetap.

Terus kutipan "apabila kamu diberi rizki bersyukurlah, maka nikmatnys akan bertambah" sepertinya sangat bener banget…. karena kerjaan di kampus sebenernya juga challenging … kita jadi kreatif gimana optimizing minimal resource untuk hasil maksimal…. dari mengajar mahasiswa, mengerjakan proposal2 hibah pendanaan departemen, korporatisasi organisasi kampus yang masih tergantung dari who’s behind (bukan how’s the system work).. dan mengejerkan pekerjaan2 tersebut cukup bisa ngasih aku perasaan kalo kerjaan aku bener2 "berarti", I’m doing something meaningful for other people/indonesian busienss education community…. Aku percaya perasaan tersebut gak akan muncul kalo aku ke industri…. yang ada malah perasaan kalo aku termasuk budak2 kapitalisme yang mengumpulkan uang seperti meminum air laut seperti yang cukup sering diungkapkan suamiku…

Kabar baik lainnya, aspirasi untuk tetap punya keterkaitan dengan industri juga Insya ALLAH akan aku salurkan melalui rencana keterlibatan dalam pembuatan Indonesian business case study yang telah dirintis sama pak Alberto & temen2 di case center (FYI, Case center departemen Manajemen FEUI udah nerbitin buku Case in Management - Indonesian real company, yang gaya & standar penulisannya a la harvard business school)

Ibaratnya QS Ar-Rahman…. "Maka nikmat Tuhan-Mu manakah yang kamu dustakan"

*mencobajadimanusiayangmenjalanihidupdenganbanyakbersyukur