last day of 2006 — new resolutions for 2007?

December 31st, 2006 by istrinyarendy

Kalo diinget lagi… resolusi 2006 aku cuma satu, survival … baik untuk menjalankan hidup jauh dari suami dan studi di belanda ini. Hasilnya.. alhamdulillah jauh lebih baik daripada yang aku duga…  "aim low get high" ceritanya.. hehehe… tapi masalah survival ada cerita dibalik itu.

Waktu sebelum nikah… aku dapet wejangan dari tante Mili, adek mama yang paling kecil. Dia bilang, menikah itu gak sama dengan meraih prestasi di sekolah atau ngejer hasil performance appraissal yang tinggi di kantor. Menikah itu ya survival, karena waktunya sampe maut memisahkan kita, kalopun mau "ganti partner" karena ketidakcocokan… gak semudah di kantor/sekolah karena akan banyak konsekuensinya.

Si Tante juga bilang bahwa masalah komunikasi pegang peranan penting.. jangan dipendam… karena bisa menimbulkan bahaya laten (hihihihi kayak PKI aje… :p)… dia menunjukkan contoh tante N yang akhirnya cerai sama suaminya karena masalah keuangan yang gak fair & gak transparan yang terus dipendam oleh kedua pihak…. tapi juga jangan langsung menyalahkan/menyerang karena akan mendatangkan masalah baru… dia ngasih contoh hidup keluarga S yang emang doyan banget "berantem".. hal2 yang kecil kayak si bapak kelamaan dandan sampe milih mangga bisa jadi trigger untuk memulai pertengkaran… sehingga anak2nya lebih doyan keluyuran karena rumah jadi gak nyaman ditinggalin… anak2nya sampe bilang dengan nada becanda (walopun sebenernya serius) "gak normal kalo ada hari dimana papa-mama gak berantem". Wakss.. eke gak pengen dah punya keluarga kayak gitu.  Sebagai penutup wejangan si tante Mili bilang kalo aku&mas Rendy survive menjalankan hal tsb… keluarga yang sakinah & mawaddah akan mudah untuk dicapai.

Baru pada tahun 2006 ini aku menggunakan kata survival dalam resolusi. Tahun2 sebelumnya aku pake kata target… yang akhirnya banyak gak tercapainya… dan agak buat stress baru. Apalagi makin menyadari aku makin tua… dan stamina aku gak kayak kuliah S1 dulu yang bisa ikut 2 organisasi, ikut kepanitiaan, ikut2an tim trainer, jadi binglas BTA, ngajar bimbel, ikut dirosat setiap minggu, gak takut nyetir sendiri ke cibodas, hang out sama temen2, "ngedate" dengan sahabat2ku (termasuk si ibuch) dan hampir gak pernah gak hadir di kuliahan… sekarang… hohoho…banyak constraintnya kayaknya…

Hmm.. kayaknya emang resolusi aku di 2007.. perlu pake pendekatan survival juga kayaknya…. yah survive menjadi keluarga samara, survive menghadapi financial challenge, survive mensinergikan keinginan2/ambisi2 pribadi dan kenyataan hidup PLUS yang terpenting survive menjalankan hidup (pribadi & keluarga) mengikuti ketentuan2 dari ALLAH SWT…. mengenai keinginan lain2 kayak bisa menguasai bahasa cina & arab kayaknya akan dibuat mengalir aja….yang penting dijalanin.. bukan dipikirin … karena kelemahan aku emang suka gak seimbang antara mikir & jalanin (kebanyakan mikirnya gitu :p)

*dminus3*

d minus 4…

December 30th, 2006 by istrinyarendy

Hari ini sholat idul adha…. seneng banget… secara pas idul fitri  bulan oktober lalu gak sholat gara2 ada kuliah :’( . Gagal sholat di Santoso Centrum… akhirnya sholat di ISR schiekade. Ketemu mbak Nana & mas Billi… talking2 about our future :p… sekaligus pinjem timbangan dan lihat verhuisdoos itu seperti apa :D

mampir ke tempat bu wirda sebentar… terus balik… pingin santai dulu… pengen nonton pelem indonesia lewat youtube… wakss ternyata pelem2 kayak gie, jomblo, dsb udah gak bisa lagi …. padahal baru 2 hari yang lalu nonton….. emang dasar harus packing kali yak… :p

Status packing  kamar kayak kapal pecah… cucian bersih menggunung… menanti dimasukin. Buku2 & folder penting udah dimasukin ke plastik… waks pas 25 kilo…. Brarti yang dibawa adalah baju2 & tas2… mak.. ternyata ada 2 handbag, 1 tas besar oleh2 dari Nat, 1 tas olah raga, 1 tas laptop, 1 tas yang agak resmi ala businesperson… bisa kebawa semua gak ya…. Eh baju2 udah dikiloin secara kasar… udah 18 kg sendiri… ahh.. tapi gak boleh percaya yang kasar2… secara yang bener itu harus ditimbang sekaligus sama koper2nyah…

Mudah2an Target utama : 23 kg bagasi & 10 kg kabin tercapai…

Btw, barang2 yang harus dihibahin juga numpuk kayaknya…. hehehe… ternyata packing for goods… gak semudah yang eke bayangkan :D

*iseng2ditengahpackingforgoods*

antara perencanaan hidup dan hidup yang mengalir…

December 28th, 2006 by istrinyarendy

Salah satu alasan kenapa aku suka berteman dengan orang2 yang lebih tua (minimal 4 tahun lbh tua) adalah mereka punya apa yang disebut "pengalaman hidup" yang sangat dimungkinkan gak dipunyai temen2 seumuran aku.. walopun temen2 seumuran aku itu bisa jadi sangatlah cerdas.

Mbak Wiwin misalnya, usianya awal kepala 4, ibu 2 anak ini adalah salah satu PNS di BKD Semarang (hmm bener gak ya?) sebelum ngambil studi lanjutnya di IHS Erasmus University. Ternyata sebelum mencapai posisi sekarang… hidupnya lumayan cukup penuh lika-liku. Dia cerita dulu habis selesai kuliah di Undip, beliau pengen banget kerja di FMCG, tapi jalan hidupnya justru menjadi dosen di Universitas Swasta di Semarang, terus diterima jadi PNS di Arsip Nasional, dan akhirnya shifting ke tempatnya sekarang.

Dalam menceritakan kisah hidupnya… terlihat banget mbak Wiwin orang yang selalu tertantang untuk melakukan yang terbaik dan selalu mau belajar hal yang baru… dan membiarkan jalan hidup menuntunnya dengan karakter progresif yang dia punyai. Dan dengan itu dia jadi "superwoman" dalam arti sebenernya… karir yang cukup progresif di Pemda, membesarkan 2 anak dengan baik, dan jago masak!! Huaahh… kerasa banget pas ngobrol sama mbak Wiwin, aku masih dalam tataran konsep yang masih mentah, sementara mbak Wiwin sudah "menari" dengan tindakan konkret…

Ngobrol dengan mbak Wiwin, dan teman2 aku yang lebih senior lainnya membuat aku jadi terus mencoba menurunkan level of uncertainty avoidance aku. Yah… jadi orang yang well planned dalam merencanakan hidup, terkadang membuat aku jadi agak kaku dan gak terbuka dengan kesempatan yang bisa jadi lebih baik daripada yang aku duga, dan parahnya well-planned ini buat aku terkadang berpikir bahwa "kerja keras untuk mencapai apa yang kita cita2kan adalah segalanya"…. padahal kalo direnungi lebih dalam… apa yang mungkin telah aku raih sekarang… hampir semuanya merupakan "luck & opportunity" atau dalam kata lain rezeki dari ALLAH SWT….

Balancing antara well-planned, open minded, kerja keras, pasrah & bersyukur… itu mungkin kalimat singkat yang bisa melukiskan pelajaran hidup yang aku dapat dari teman2 "dewasa"ku… mudah2an kerangka hidup seperti ini bisa terinternalisasi dengan baik…

*InsyaALLAHseminggulagiketemusuamidibandaraCGK:)*

prejudice….

December 27th, 2006 by istrinyarendy

Dalam dua minggu ini setidaknya ada 3 kali makan bareng yang aku lakukan setelah kegiatan perkuliahan selesai. Pertama, makan bareng Dscn2280 sama Fang-Chi & TM. I’m gonna miss them.. for sure. banyak hal2 pribadi banget yang aku share ke mereka, dan begitu juga mereka. Berharap banget kalo mereka bisa segera menemukan pekerjaan ideal mereka sehingga bisa melangsungkan pernikahan yang telah mereka rencanakan. (ket foto dari ka-ki : TM, Fang chi, Me & Hui hung lagi di Gala). Melihat hubungan pertemanan kita yang sangat akrab dan secara TM & Fang Chi adalah orang Chinese-Taiwan (yang konon banyak keturunan tionghoa Indonesia berasal dari Taiwan), aku jadi kepikiran banget kenapa ya hubungan orang keturuan tionghoa Indonesia dengan orang pribumi tidak begitu kuat… padahal kita sama2 manusia bukan.. yang beda hanya warna kulit, bentuk mata, dan kultur yang dibangun… dan ini juga yang membuat aku bertanya2 karena ketika ada acara di KBRI aura kita adalah satu indonesia  kerasa banget (elo mo kate jawa, tionghoa, padang, ambon pokoknya indonesia)… hiks…tapi sayangnya hal yang sama kurang berlaku umum di Indonesia yak…

Lanjut ke makan kedua, perpisahan aku sama Julia Bertholdt, my lovely German flatmate.  Walopun waktu bareng sama Julia lebih singkat dibanding sama Nat, aku merasa aku lebih nyaman sama Julia. Quite strange karena Nat yang berasal dari Thailand seharusnya lebih mudah untuk 100_2448_5 berkomunikasi… tapi ternyata sebaliknya. Tipikal orang/cewek eropa yang agresif, menyerang & ketus… kayaknya lebih dekat ke Nat daripada Julia… tapi bukan berarti Nat gak menyenangkan lho… dia menyenangkan… cuma entah kenapa Julia lebih meninggalkan kesan mendalam di hati…. dari dia memberikan coklat countdown untuk menghitung hari kepulangan aku sampe kita sampe buat janji pas lunch terakhir untuk saling kontak & mengunjungi… (btw dia spesial meng-arrange lunch tersebut buat aku …dan itu membuat dia bela2in pulang sehari sebelum natal.. gara2 nunggu aku balik dari nginep di weenapad). Dengan Julia aku bener2 merasa without prejudice friendship could go beyond religion, race, marital status & cultures.. sama sekali gak terpengaruh kampanye anti-terorism & anti-Islam… yang sedang cukup marak di Belanda sini..

Lalu ketiga, pas libur natal ini, aku dikunjungi mantan anak2 AIESEC LC-UI yang lagi berada di belanda dan sekitarnya… duhh mereka… kelihatan banget evolved dari sosok yang aku kenal dulu… Hisma yang sedang ambil MBAnya di Nijenrode tampak jauh lebih matang & punya karir yang cemerlang prior her MBA study. Begitu juga Irwin… sekarang dia sudah menguasai 5 bahasa asing.. padahal dulu terakhir ketemu dia baru mulai bahasa yang ketiga… btw Irwin juga sudah menyelesaikan masternya di Italy mengambil HR, dan sekarang bekerja di Belgia. Terus Ambon, akhirnya menikah dengan Ingmar salah satu TN AIESEC asli Belanda… setelah selesai master International business-nya di Groningen… sekarang Ambon mulai 100_2461_1kerja di bank terbesar di Belanda… untuk sustainability development project. Dulu waktu kuliah S1 pernah terbersit, kok anak2 AIESEC ini terkesan hore2 dan gak serius yak… tapi ternyata justru sebaliknya… mereka jadi orang yang mungkin jauh lebih sukses daripada aktivis2 lain yang aku prediksi bakal sukses setelah kuliah S1nya. (keterangan Ki-ka : Me, Hisma, Ingmar, (dian)Ambon, Irwin lagi di kamarnya Hisma, nijenrode universiteit Breukelen-Utrecht— foto diambil Reggie yang ternyata temennya si Mario sahabatku sejak jaman putih-biru dulu)

Hmm…Prejudice… simple action… but "deadly" consequences… mudah2an aku bukan termasuk orang yang tersentuh dengan/oleh si prejudice itu sampe akhir hayat nanti…

lagu kalo lagi berantem

December 24th, 2006 by istrinyarendy

Ada kalanya dalam sebuah hubungan personal kita punya masalah & emosi memperkeruh segalanya… tapi kalo denger lagu ini… jadi sadar.. kalo kita hanya ordinary people yang masih besar room for improvementnya.. yang need to take it slow.

JOHN LEGEND LYRICS

"Ordinary People"

[Verse 1]

Girl im in love with you
This ain’t the honeymoon
Past the infatuation phase
Right in the thick of love
At times we get sick of love
It seems like we argue everyday

[Bridge]

I know i misbehaved
And you made your mistakes
And we both still got room left to grow
And though love sometimes hurts
I still put you first
And we’ll make this thing work
But I think we should take it slow

[Chorus]

We’re just ordinary people
We don’t know which way to go
Cuz we’re ordinary people
Maybe we should take it slow (Take it slow oh oh ohh)
This time we’ll take it slow (Take it slow oh oh ohh)
This time we’ll take it slow

[Verse 2]

This ain’t a movie no
No fairy tale conclusion ya’ll
It gets more confusing everyday
Sometimes it’s heaven sent
Then we head back to hell again
We kiss then we make up on the way

[Bridge]

I hang up you call
We rise and we fall
And we feel like just walking away
As our love advances
We take second chances
Though it’s not a fantasy
I Still want you to stay

[Chorus]

We’re just ordinary people
We don’t know which way to go
Cuz we’re ordinary people
Maybe we should take it slow (Take it slow oh oh ohh)
This time we’ll take it slow (Take it slow oh oh ohh)
This time we’ll take it slow

[Verse 3]

Take it slow
Maybe we’ll live and learn
Maybe we’ll crash and burn
Maybe you’ll stay, maybe you’ll leave,
maybe you’ll return
Maybe another fight
Maybe we won’t survive
But maybe we’ll grow
We never know baby youuuu and I

[Chorus]

We’re just ordinary people
We don’t know which way to go
Cuz we’re ordinary people
Maybe we should take it slow (Heyyy)
We’re just ordinary people
We don’t know which way to go
Cuz we’re ordinary people
Maybe we should take it slow (Take it slow oh oh ohh)
This time we’ll take it slow (Take it slow oh oh ohh)
This time we’ll take it slow

*loveUhoney,konflikmakinmembuathubungankitamakinkuatyach:D*

Pa’ De Yit…

December 22nd, 2006 by istrinyarendy

Orang yang jadi saksi resmi pernikahan versi KUA bisa dipastikan orang yang sangat spesial di keluarga besar dan atau sangat spesial buat si mempelai. Seperti aku yang memilih Om Nazif sebagai saksi dari pihak perempuan, karena keluarga Om Nazif lah yang paling dekat dengan keluarga Sjawalman Agus. Dulu sebelum stroke, papa & om Nazif selalu ngobrol/diskusi seru bak kawan baik, sementara mama Is & (almh) te’ ta adalah kakak adik yang telah mengalami susah senang bersama. Terus bang Ian-bang harry-Ibuch-aku juga dekat denag Ibur-Ibud-Gita.

Dulu pernah kita naik becak dari rumah nenek di setiabudi raya 30 ke rumah keluarga om Nazif di setiabudi timur … dengan lapis 3. bang ian & bang harry sebagai base - Ibuch & ibur sebagai lapis 2, sementara aku & ibud di puncak… huhuhu those were the days banget… aku inget abang becaknya ngos2an banget ngangkut kita berenam di becak (ampuuunn deh).. gak kuat genjot becaknya yang masuk lobang di jalanan gak mulus…

Begitu juga dengan pak de Yit yang jadi saksi di pernikahan aku-mas Rendy dari pihak mempelai laki2. Selain dituakan, pak de Yit itu sangat sayang dan disayang sama mas Rendy kuw. Pak de Yit adalah orang yang melatih kemandirian mas Rendy waktu kecil, secara mas Rendy itu anak tunggal, ada sedikit kesan kalau dia di overprotected sama mama Nani & papa to. Nah si pak De ini yang berupaya datang dengan solusi untuk permasalahan itu. Waktu itu (sekitar kelas 6 SD) mas Rendy diajak pak de untuk beli ikan. Hobi favorit mereka berdua. Nah, pak de sengaja "menjebak" supaya mas Rendy pulang sendiri… ngasih uang secukupnya, disuruh ke stasiun senen naik P15 terus nyambung lagi… dan mulai sejak itulah mas Rendy bisa untuk lebih mandiri dan tidak jadi anak rumahan aja.

Waktu menjelang kita nikah, pak De Yit bener2 meluangkan waktu untuk memberikan kita nasihat pernikahan. Pak de Yit bilang kalo dengan kenyataan mas Rendy anak tunggal yang dimanja & aku anak bungsu yang juga biasa terpenuhi keinginannya.. potensi bertemunya dua kepribadian yang agak ngototan sangat tinggi. Intinya sih dia bilang saling sayang & saling hormat adalah kunci supaya rumahtangga kita menjadi rukun. Dan pada saat itu dia "menitip" mas Rendy padaku, kalau dia udah gak ada umur.

Pak de Yit punya penyakit jantung yang cukup parah, dan waktu serangan jantung pertama yang cukup parah (sekitar tahun 1999), pak de Yit udah hampir hilang semangat hidupnya. terus mas Rendyku yang udah disayang kayak anaknya sendiri bilang, "pak de.. kuatin tekad & cepet sembuh.. pak de belum lihat Didot (nama kecil suamiku) lulus kuliah & menikah". Pak de jadi semangat lagi… dan dia pulih berangsur2.

Hari ini aku dapet sms yang buat aku antara terkejut & sedih, "Innalillahi wa inna ilaihi ro’jiun, telah berpulang ke rahmatulllah pa’ de Harley Prayitno di Lampung , jumat 22 Desember 2006 jam 15.45. Semoga arwahnya diterima di sisiNya".

Yang buat aku agak "gimana" ternyata emang bener, ALLAH emang ngasih kesempatan pak de Yit pas waktu serangan jantun pertamanya, untuk melihat ponakan tersayangnya lulus S1 (dengan predikat lulusan terbaik pria dept. manajemen FEUI) dan menikah.

Selamat jalan pak de, semoga pak de memperoleh tempat terbaik di sisi ALLAH, segala kebaikan pak de dibalas ALLAH dengan ganjaran surga dan segala kekhilafan pak de diampuniNya.

*inmemoriam:pa’deHarleyPrayitno*

role model baru…

December 21st, 2006 by istrinyarendy

Dua hari lalu adalah hari terakhir aku ketemu Stefano, profesor brand manager aku. Kalo ditanya siapa 5 profesor favoritku selama kuliah di RSM, Stefano pasti masuk di dalamnya. Setidaknya ada 3 alasan kenapa I love Stefano Puntoni :

1. Dia bener2 engaged kalo ngajar, well prepared, knows his student really well (not only backgrounds but also how the best way to approach the students). Efektif dalam 3 jam banyak hal yang bisa dilakukan/didapet (traditional lectures, discussion, case study and or video case)  tapi gak berkesan terbebani.

2. I love his teaching materials. Dia punya business case sendiri (mark & spencer, walmart, Laura Ashley, etc) sebagai bahan mengajar, selain case2 dari business school lain tentunya (burberry, cialis, wall’s-unilever, snapple, etc). Buat business case kan berat banget, printilan research & detailnya buanyak. Terus slide sesi mengajar klasikalnya juga bener2 powerful, kelihatan dipersiapkan matang, original & bukan tipe copy paste.

3. Secara personal dia menyenangkan. Dia akrab dengan mahasiswa, dan fun to be with. Seneng aja dia segelintir dari profesor yang mau hang-out sama mahasiswanya, bahkan dalam kasus dia… dia yang traktir mahasiswanya minum2 di pub (hehehe… kalo ke pub eke minumnya cola kok… dan kalo gak spesial kayak gini… eke juga gak ke pub :p). Not to mention dia juga seorang ayah yang baik… inget waktu pertama kali dia mengenalkan diri … dia bilang the most precious thing that he had is… (slide ganti).. gambar anaknya yang lucu banget.. :D

Menurut aku… dia adalah sedikit dari profesor yang menurut aku bener2 perlu contoh. Dia research, dia buat case, dia punya strong network dengan business, dan dia professor yang baik untuk mahasiswanya. Hey… kok semua kategori favorit profesorku mirip yak… Richard Sudek juga kayak gini… Intinya mereka adalah Profesor sebener2nya profesor, mengcreate/mensintesis ilmu, mendiskusikannya dan mengajarkannya. Bukan sekedar aktor yang memakai bahan/research orang lain, dan mencoba mengajarkannya seperti memutar kaset/TV. Hmm emang yah… good profesor itu bukan aktor

Final examination kelasnya Stefano adalah bahas Red Bull. Tak pikir Kratingdaeng yang dulu aku sering minum adalah franchise dari Red Bull. Ternyata justru kebalikannya… Red Bull International yang dimiliki oleh Dietrich Mateschitz (terdaftar dalam forbes billionaire dengan kekayaan pribadi diperkirakan US$ 2 billion) ternyata isinya adalah produk kratingdaeng yang biasa aku minum di indonesia tapi di bungkus dalam kemasan berbeda dan menggunakan carbonated water yang lebih "ramah" dengan lidah orang Eropa. Jangan ditanya si Orang Thailandnya.. diam2 orang Thailand tsb punya 49% dari saham Red bull international.

Kasus ini selain oke (membahas gimana Redbull mengembangkan strategi growth dalam kondisi pasar yang udah mature), juga quite inspiring karena bener2 ngasih contoh kalo produk southeast asia bisa go international dan ngebuktiin orang south east asia –yang sering dijuluki lame/laggard asian compare to northern asia (japan-korea-taiwan)– bisa stand out :D

hehehe… kalo lihat www.redbull.com dan acara flugtag (kontes terbang) sapa yang nyangka sih kalo redbull dengan packaging soft-drink can adalah peniru dari kratingdaeng :D

*ngeblogdischiedamsevest38E,sambildengerinlagurindunyakerispatih*

Soonu Kochar - “myopia” - kuba - samuel mulia

December 17th, 2006 by istrinyarendy

Waktu kelas Geopolitic selesai, aku sempet semeja bareng sama madam (former) ambassador Soonu Kochar, dosen geopolitic aku. Beliau yang pernah ditugaskan di berbagai negara (mayoritas Eropa Barat) bilang ke aku & Bjorn yang semeja dengan beliau, kalo udah lewat dari 4 tahun tinggal di LN, keterikatan terhadap bangsa asalnya akan mengendor… karena gak bisa merasakan langsung aura dinamisasi (ekonomi-sosial-politik) yang terjadi di negaranya.

Mungkin itu akhirnya bisa menjawab kenapa untuk pindah kewarganegaraan, seseorang tsb harus tinggal di negara yang dituju minimal 5 tahun tanpa pernah pulang kampung… atau 10 tahun kalo lumayan sering pulang kampung. Dan mungkin juga menjawab kenapa komunitas Indonesia di Belanda yang aku temui… cara pandang thd Indonesia & pemakaian bahasa Indonesianya sangat a la tahun 80-an atau bahkan 70-an.. kayak mengalami "myopia" gitu. Contoh lain lagi…kader tarbiyah disini "kulturnya" persis kayak kader2 tarbiyah jaman 90-an .. yang dedicated & militan banget (dan terjaga dedikasi & militansinya) … beda dengan kader tarbiyah di Indonesia yang menurut subjektifitas aku makin cair dan makin menurun kualitas fikroh & daya dobraknya.

Nah..gara2 gak mau "myopia", akhir2 ini aku jadi makin intensif nelpon ke rumah.. update berbagai info mengenai kondisi indonesia sekarang… biar gak terlalu "culture shock" seperti banyak temen2 STUNED 2005 yang "kaget" pas waktu balik ke Indo karena biasa hidup teratur, tanpa gengsi, dan nyaman…  harus kembali merasakan nuansa kesemrawutan khas Indonesia. Contoh sederhana waktu balik summer yang lalu sempet setress dengan angkutan umum bus yang seenaknya suka ngetem (padahal dulunya aku juga cukup sering naik bus)…. dan jadi tambah setres gara2 aku jadi gak tepat waktu (padahal dulunya aku punya kultur it’s normal by being 5-10 minutes late)…. Terus setelah naiknya harga BBM & beras akhir2 ini… suami & Ibundaku udah wanti2 untuk banyak bersyukur… karena banyak banget orang susah sekarang ini… bahkan beberapa kerabat aku termasuk di dalamnya… untuk makan makanan sehari2 aja mereka sampe berhutang dan akhirnya menjual rumah mereka… gitu juga masalah banyak anak yang putus sekolah bahkan yang masih SD sekalipun..

Nyambung ke masalah anak SD putus sekolah, aku jadi keingetan negara Cuba (gara2 seragam SD mereka juga putih-merah). Setelah kunjungan SBY ke Cuba dan banyaknya artikel mengenai Cuba yang ditulis wartawan Indonesia… Aku jadi pingin tahu banyak mengenai Cuba. Dan ternyata gak heran kenapa SBY banyak berharap supaya banyak dilakukan pertukaran atlit & pemuda ke Cuba….karena di negara yang life expectancynya di atas 72 tahun (indonesia cuma 60-an dikit) dan tingkat melek hurufnya (diatas 92% baik cowok maupun cewek), kultur untuk menjadi cerdas sangat kuat tertanam. Instead nonton telenovela, sinetron ataupun acara gosip di TV… orang2 Cuba lebih suka berkumpul bersama… saling membacakan buku & mendiskusikannya… walopun bukunya "sekedar" novel Dan Brown.

Mungkin kita perlu orang2 kayak Samuel Mulia lebih banyak lagi kali ya… Btw, aku termasuk orang yang selalu menunggu2 apa yang akan ditulis Samuel Mulia di kolom Urban di kompas Minggu lho. Tulisannya "lucu2" agak satire tapi cerdas…  sering mengetawakan dirinya sendiri karena hidup dalam dunia fashion & sociallite yang terkadang penuh kamuflase… tapi dengan bahasa yang a la socialite gitu… mudah2an aja para socialite itu bisa tercerdaskan dengan artikelnya Samuel Mulia, karena once para sociallite tercerdaskan… mereka yang dianggap having "aspirational type of life" bisa merubah mainstream gaya hidup menonton telenovela/sinetron/gosip show jadi sesuatu yang lebih produktif lagi….

*makinmenyadarikaloapayangakuketahuicumasetetesdarisamudra ilmupengetahuan*

rindu… sakit yang terenak :p

December 16th, 2006 by istrinyarendy

Selama di belanda… suami gak pernah mau bilang gimana perasaannya dia dengan kondisi kita ini… selain ungkapin "aku sayang sama kamu" (dan sejenisnya)…..  atau "aku pingin kamu studi tepat waktu/cepet selesainya"……. atau ketika aku lagi labil "doaku menyertaimu yang.. aku ridho dengan kenyataan kalo kamu memang harus ambil studi lanjut di LN kok…. apalagi yang harus dikuatirkan?"

tapi menjelang kepulangan ini… mas kuw itu mungkin gak tahan lagi yak… sehingga dia jadi kirim banyak lagu yang pastinya kalo dia kirim di awal2 atau pertengahan studi… aku pasti buru2 pulang dan ninggalin segala urusan perkuliahan….hmmm kurang supportive apa coba? (hiks hiks… kangeeen :’( … )

Lagu Rindu dari kerispatih ini salah satunya….

bintang malam katakan padanya..

aku ingin melukis sinarmu di hatinya

embun pagi katakan padanya….

biar ku dekap erat waktu dingin membelenggunya

bintang malam sampaikan padanya..

aku ingin melukis sinarmu di hatinya

embun pagi katakan padanya….

biar kudekap erat waktu dingin membelenggunya

Ref :

tahukah engkau wahai langit…

kuingin bertemu membelai wajahnya

kupasang hiasan angkasa yang terindah

hanya untuk dirinya…

lagu rindu ini kuciptakan

hanya untuk bidadari hatiku tercinta

walau hanya nada sederhana…

ijinkan kuungkap segenap rasa dan kerinduan…

haaaa….

wwooo…..

haaawwwwooooo wooooo… (hihihihi… bingung gimana nulistnya :p)

*back to ref

Haaa uuu…..

ijinkan kuungkap segenap rasa dan kerinduan….

Ternyata kerispatih belum cukup buat beliau…. sampe perlu mengirimkan lagu lama dari Richard Marx ini….

Oceans apart…

Day after day…

And I slowly go insane

I hear your voice on the line…

But it doesn’t stop the pain

If I see you next to never

How can we see forever?

reff:

Wherever you go

Whatever you do

I will be right here waiting for you

Whatever it takes

Or how my heartbreaks

I will be right here waiting for you

I took for granted all the times

That I’ve thought would last some how

I hear the laughter I taste the tears

But I can’t get where you now

Oh can’t you see it baby…

You got me go on crazy…

Back to reff*

I wonder how we can survive…this romance…

But in the end.. if I’m with you

I’ll take the chance…

(Instrumental)

Oh can’t you see it baby…

You got me go on crazy…

Back to reff*

Waiting for you

Duhh.. kuangen surangen buangen buanget jadinya…. apalagi gara2 aku "nekat" menuliskan sendiri liriknya instead of copy paste dari site2 lirik lagu …

Hmmm… Kalo merefleksikan kurang 2 tahun lebih pernikahan kita… emang aku dan suami tipikal pasangan muda yang masih culun belum banyak pengalaman…. dikombinasikan dengan rasa ingin berkembang di berbagai aspek… Tapi gara2 yang namanya cinta kita malah jadi saling support satu sama lain untuk meraih cita2/ambisi kita (walopun agak short sighted melihat konsekuensi di belakangnya)… Jadi beginilah kita….berani mutusin keputusan gila untuk "long distance" 16 bulan (start sept ‘05) sementara kita baru merayakan setahun pernikahan…. Dialog sebulan sebelum keberangkatan ini adalah salah satu bukti kalo kita saling cinta tapi juga nekat dalam bertindak tanpa menimbang matang konsekuensi di belakangnya

Anna : ”Mas… kita nikah belum sampe setahun… terus mau pisah hampir satu setengah tahun… kok rasanya aku gak yakin ya aku mau pisah sama kamu…. Aku undurin diri aja ya dari program beasiswa ini?”

Rendy : ”Kalo nurutin kemauan aku… aku juga pinginnya kamu ada di sisi aku Na… tapi aku tahu… betapa besar potensi istriku dan banyak orang yang menaruh harapan sama istriku ini.. Jadi jangan konyol dengan mundur dari beasiswa… kamu udah berjuang untuk peroleh yang kamu pingin…. masa udah dapet malah dilepas?”

Anna : ”Hmm… kayaknya sih aku lebih pentingin ridho kamu sebagai suamiku mas… dibanding bisa studi di luar negeri… ridho kamu sebagai suamiku ’kan lebih pasti…. ganjarannya surga”

Rendy : ”Aku ridho sama kamu untuk studi di luar negeri Anna…. aku tahu ini berat buat aku…. tapi aku gak pengen kamu sia2kan kepercayaan orang yang sudah memberi amanah kamu buat studi lanjut… baik dari pihak EMA atau pihak NEC… Suaminya bangga tahu kalo punya istri pinter…”

Anna : (terharu dan mengucap dalam hati)… I’m so lucky to have someone like you as my husband honey…. Mudah2an ALLAH tetap memberikan karuniaNya kepada kita berupa keluarga yang sakinah, mawaddah & penuh rahmah…

terus babak selanjutnya….. Days after my departure… hehehe… no comment deh…. :p

Tapi aku & mas Rendy gak menyesal… karena kita pikir kita masih muda… kita masih kayak spons atau karet yang bisa ditarik-ulur dan tetep kembali ke bentuk asalnya. Dan pengalaman long distance Ini bener2 jadi pengalaman berharga dalam hidup kita yang kita tulis dengan tinta emas karena banyak buanget hikmahnya (baca : malahan justru nambah rasa cinta & rasa sayang kita)

Tapi untuk pisah lagi ke depan…. hiyyy… enggak deh.. kapok… :p

*19 days to go*

jalan hidup orang beda….

December 15th, 2006 by istrinyarendy

Baru aja selesai chatting sama mbak Riri, kakak kelas di SMA & juga di FEUI. Walopun beda 4 tahun dan jarang ketemu… entah kenapa mbak Riri itu rasanya selalu jauh di mata dan dekat di hati…. tetep sehati gitu dalam berbagai hal. Ketemu terakhir sama mbak Riri waktu mo balik ke blanda di akhir bulan Agustus yll, kita sama2 naik pesawat ke KL (habis itu beda pesawat.. aku ke schipol mbak Riri ke UK)… cumanya aku sendirian… sementara mbak Riri segambrengan (2 anak kecil, 1 kereta dorong, 1 ibunya mbak Riri & satu adiknya mbak Riri)… dan akhirnya kita baru sempet ngobrol di… mushollanya KL international airport :D

Selain ibuch, mungkin mbak Riri adalah "kakak" yang mengerti sisi2 terdalam dari aku kali yak… aku gak perlu menjelaskan mengapa aku bertindak begini atau mengambil keputusan itu.. karena mbak Riri mengerti… ehh.. iya lah ya… kenal mbak Riri udah hampir 10 tahun… dari jaman putih abu2 (mbak riri jadi mentor pengajian gitu) sampe jaman kuliah & kerja di FEUI…. jadi inget waktu aku mutusin untuk kerja di PPSDMS pas menjelang kelulusan S1… mbak Riri yang 3,5 tahun lebih tua ini bilang… "Are you sure na? tak pikir situ punya ambisi yang lebih besar?"… dan ternyata she’s absolutely right… dia ketawa aja begitu tahu aku.. balik lagi ke kampus… kerja di kampus plus jadi asdos… terus ketawa lagi melihat aku "long distance" sama suami gara2 skola lagi… plus ngeledek status bulok aku (baca : BUjang LOKal) yang menurut dia memudahkan aku untuk konsentrasi studi (padahal mah kagak.. yang ada homesick beurath :p)

Tapi jalan hidup emang beda tiap orang emang beda kali ya… bak kata QS. Al-Baqoroh di ayat2 terakhir, "tidaklah seseorang itu diberi cobaan yang tidak dapat ditanggungnya"…. Mbak Riri yang jauh lebih matang & stabil menikah pas umurnya belum 22 tahun (kalo gak salah).. terus langsung hamil.. terus berangkat sekolah Master… terus hamil lagi.. terus lanjut ke PhD …. wakss kalo aku jadi beliau… aku bisa jadi udah mundur… bakal STRESS berat… dari anak musti ditangani sendiri (mengingat kalo di LN gak ada luxury yang namanya PRT & Babysitter) belum lagi tugas2 kuliah… tugas domestik lain… walopun suaminya ikut & bantuin mbak Riri… tetep aja weleh2…

Mungkin ALLAH memang ngasih aku "ujian" levelnya baru "long distance" sama suami aja… belum kayak mbak Riri.. karena kapasitasku baru segini… masih mencari titik keseimbangan dan to some extent masih agak labil… biar gampang sebagai bandingannya… sekarang angka usia aku 26.. pas mbak Riri umur 26 beliau udah punya 2 anak kalo ndak salah dan lagi persiapan ke jenjang PhD…. sementara aku.. jenjang S2 belum kelar… anak masih nul… :p

Mengutip Kampanye “Keep the Stress Away”nya Budiyah –Bersyukur, Bersabar, Nikmati, dan Cintai Hidup ini— emang bener banget…

*menikmatihari2menjelangkepulangan-20daystogo*